Dyspnoea dikaitkan dengan rhinitis, yang menyebabkan pembengkakan dan penyempitan saluran udara bagian atas, menyebabkan ventilasi hidung yang kurang, yang pada gilirannya menyebabkan dyspnoea. Hal ini karena 70% dari resistensi pernapasan seseorang berada di saluran udara bagian atas, yaitu di rongga hidung dan faring, dan rinitis menyebabkan pembengkakan dan penyempitan rongga nasofaring saluran udara bagian atas, yang pada gilirannya menyebabkan defisiensi ventilasi hidung. Misalnya, ketika terjadi peradangan di rongga hidung saat pilek, tubuh sering merasa bahwa ventilasi hidung tidak memadai, sehingga hidung tersumbat dapat menyebabkan kurangnya ventilasi dan tubuh secara alami tampak bernapas dengan mulut terbuka, yang terwujud dalam bentuk sesak napas. Pada titik ini, pengobatan untuk mengurangi kongesti mukosa hidung diberikan untuk rinitis, yaitu dengan obat dekongestan seperti efedrin, untuk memperbaiki dyspnoea yang disebabkan oleh rinitis. Dalam kasus rinitis alergi, yang juga menyebabkan dyspnoea, dan rinitis alergi dan asma bronkial, yang merupakan penyakit yang sama pada saluran napas yang sama, dyspnoea diperparah bila disertai asma bronkial. Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan pengobatan dengan korelasi antara dyspnoea dan rhinitis, serta kondisi saluran udara bagian bawah.