Sindrom nyeri regional kompleks (CRPS) adalah sindrom klinis yang ditandai dengan nyeri, distrofi, dan disfungsi yang sulit diatasi, yang merupakan akibat dari cedera yang tidak disengaja, cedera medis, atau penyakit sistemik. Sindrom ini terdiri dari dua gangguan nyeri simpatis yang khas, yaitu distrofi simpatis refleks dan neuralgia yang terbakar, dan umumnya berhubungan dengan cedera tulang belakang dan pasca-amputasi. Gambaran Klinis 1. Nyeri: Mayoritas pasien mengalami nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis, termal, mental atau emosional, termasuk nyeri spontan, hipersensitivitas nosiseptif dan hipersensitivitas nosiseptif dan nyeri neurogenik lainnya. Dalam beberapa kasus, 3 hingga 6 bulan atau lebih setelah cedera, masih ada rasa sakit yang menetap yang menyebar ke daerah sekitarnya. 2, gangguan nutrisi: di lokasi cedera dan jaringan di sekitarnya, sering disertai dengan disfungsi saraf vasomotor, pembengkakan. Kadang-kadang, meskipun pembengkakan tidak terlihat jelas, sering kali ada keluhan pembengkakan. Kulit mulai berkeringat dan sebagian besar tampak lembab dan memerah. Suhu kulit dapat bervariasi dan tinggi, dengan kecenderungan penurunan suhu kulit pada tahap selanjutnya, yang menunjukkan perubahan iskemik. Dengan perkembangan penyakit yang progresif, pertumbuhan rambut dan kuku berubah dari lebih cepat menjadi lebih lambat, dan kulit secara bertahap menjadi tipis serta kuku melengkung dan kehilangan kilaunya. 3. Fungsi motorik: Penurunan kekuatan cengkeraman dan berkurangnya fungsi motorik halus dapat terlihat sejak dini. Persendian menjadi kaku karena atrofi otot yang tidak digunakan akibat berkurangnya rentang gerak. Setelah 6 bulan penyakit, kulit menjadi lebih tipis dan berkilau karena atrofi jaringan subkutan, dan keringat meningkat atau menurun pada kulit yang terkena. Pada kasus hipertrofi myofascial, kontraktur sendi dan osteoporosis juga dapat terjadi. Pemindaian tulang atau sinar-X dapat menunjukkan tanda-tanda osteoporosis. Kriteria diagnostik ① Riwayat cedera atau penyakit yang sudah lama atau baru saja terjadi. ②Rasa nyeri terbakar yang terus-menerus dengan tanda-tanda nyeri neurogenik. ③Terdapat disfungsi pembuluh darah dan keringat, perubahan nutrisi seperti atrofi otot, oedema tungkai atau dehidrasi, dan hipersensitivitas terhadap rangsangan seperti dingin. (iv) Tes blok simpatis diagnostik sebagian besar positif. Pengobatan Setelah didiagnosis, metode pereda nyeri harus dicari sedini mungkin, bersama dengan rehabilitasi aktif. 1. Perawatan pencegahan: Penanganan trauma yang sempurna dan analgesia yang memadai di awal cedera adalah penting. Dengan kata lain, penting untuk mengendalikan rasa sakit pada tahap akut dan mencegahnya berkembang menjadi kronis, sambil menggabungkannya dengan perawatan psikiatri, yang umumnya dianggap mencapai hasil yang lebih baik. 2. Stimulasi listrik transkutan (TENS): Stimulasi listrik transkutan adalah analgesik dengan mengaktifkan peptida opioid endogen, dan juga dapat menstimulasi saraf serabut tebal di tempat nyeri, mengubah impuls sensorik yang ditransmisikan ke sistem saraf pusat dan mencapai tujuan pereda nyeri. 3 . Obat-obatan: (1) Anti-depresan: yang umum digunakan adalah amitriptilin, prometazin, doksepin, dan antidepresan tri (tetra) siklik lainnya. Obat anti epilepsi dan anti kejang: obat yang representatif termasuk karbamazepin, fenitoin natrium, dan natrium valproat, yang efektif untuk mengatasi rasa sakit akibat sengatan listrik. Obat yang lebih banyak digunakan di luar negeri adalah gabapentin, yang secara signifikan dapat meredakan neuralgia yang disebabkan oleh diabetes melitus atau herpes zoster. Obat antiinflamasi dan analgesik non steroid, neurotoksin, sediaan prostaglandin, hormon, obat mirip morfin, dll. 4 . Perawatan blok saraf: blok saraf simpatis adalah perawatan utama. Blok saraf yang umum digunakan meliputi: SGB, blok simpatis toraks, blok simpatis lumbal, blok saraf lokal intravena, blok epidural, dan blok subaraknoid. Blok saraf simpatis dilakukan secara klinis, terutama dengan memblokir rasa sakit yang dimediasi oleh saraf tersebut dan melebarkan pembuluh darah di area yang dipersarafi. 5. Jika gejala nyeri tidak membaik atau hanya membaik sementara setelah dilakukan pemblokiran saraf oleh pihak berwenang, maka perlu dipertimbangkan untuk menggunakan obat neurodestruktif, bedah saraf, atau simpatektomi. 6 . Jika pengobatan di atas tidak efektif, implantasi alat pacu jantung analgesik atau pompa analgesik subarakhnoid dapat dipertimbangkan.