Apa hubungan antara psikologi dan penyakit pada pasien dengan penyakit menular?

Psikologi medis percaya bahwa penting untuk mempertahankan pandangan terpadu antara pikiran dan tubuh dalam hal kesehatan dan penyakit manusia. Menurut pandangan ini, penyakit dapat dibagi menjadi tiga kategori: Kategori I: penyakit yang faktor penyebabnya bekerja secara langsung atau pertama kali di otak, dengan perubahan patologis terutama di otak, yang menghasilkan gejala kejiwaan yang jelas. Kelompok gangguan ini terutama mencakup beberapa gangguan neurologis yang terkait dengan kerusakan otak dan sebagian besar gangguan kejiwaan. Pada gangguan ini, faktor psikologis terkadang merupakan faktor penyebab utama dan terkadang merupakan faktor predisposisi. Kelompok penyakit kedua: faktor penyebab bekerja secara langsung atau tidak langsung pada organ-organ sistem somatik selain otak, dan perubahan patologis terjadi terutama pada organ-organ tersebut, tetapi gejala-gejala yang dialami pasien dicirikan oleh prevalensi gangguan psikologis dan, dalam beberapa kasus, oleh berbagai tingkat gejala kejiwaan. Kelompok gangguan ini mencakup sebagian besar disiplin ilmu klinis kecuali gangguan neurologis otak dan gangguan kejiwaan. Kelompok penyakit ketiga: faktor penyebabnya sebagian besar adalah faktor fisik dan kimia yang bekerja secara langsung pada berbagai bagian tubuh, dan perubahan patologisnya adalah kerusakan organ atau jaringan lokal yang jelas. Misalnya, trauma mendadak, luka bakar, keracunan, dll. Agen penyebab penyakit menular adalah patogen hidup, dan proses terjadinya dan perkembangannya dalam tubuh manusia pada dasarnya berbeda dari penyakit non-infeksi. Beberapa ahli telah melakukan penelitian terhadap pasien dengan virus hepatitis B, salah satu penyakit menular yang umum, dan menemukan bahwa pasien tersebut memiliki lebih banyak peristiwa kehidupan yang bermasalah secara sosial sebelum terkena penyakit ini, dan sebagian besar memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kontrol yang sehat. Namun, jika dibandingkan dengan pasien medis non-hepatitis (terutama psikosomatis), peristiwa kehidupan yang bermasalah secara sosial lebih sedikit dan secara signifikan berbeda dibandingkan dengan yang terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikososial akibat kejadian dalam hidup, meskipun memiliki pengaruh terhadap perkembangan hepatitis B, namun jauh lebih kecil pengaruhnya dibandingkan dengan pasien dengan penyakit psikosomatik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa faktor psikososial hanya merupakan faktor pendukung dalam perkembangan hepatitis B. Penyebab utama penyakit ini tetaplah efek biogenik dari virus hepatitis B.