Pembentukan hiperopia dapat dibagi ke dalam dua kategori utama, yang disebabkan oleh penurunan daya refraksi komponen refraksi mata dan yang terjadi sebagai akibat dari pemendekan relatif sumbu mata. Mata yang cahaya paralelnya melewati sistem refraksi mata saat istirahat selama akomodasi dan fokusnya jatuh di belakang retina dikatakan hiperopik. Sistem refraksi mata terdiri atas kornea, lensa, vitreous humor dan cairan atrium. Keempat struktur transparan intraokular ini memiliki indeks refraksi yang berbeda, dan sinar cahaya melewatinya dengan derajat refraksi yang berbeda. Dua komponen refraktif yang paling penting adalah kornea (kekuatan refraktif sekitar 43D) dan lensa (kekuatan refraktif sekitar 19D), sehingga perubahan abnormal pada kornea dan lensa dapat membentuk hiperopia refraktif. (2) Hipermetropi aksial disebabkan oleh pemendekan relatif sumbu mata, tanpa perbedaan besar dalam daya refraksi dibandingkan dengan mata normal, dan oleh karena itu fokus cahaya jatuh di belakang retina. Orang dilahirkan dengan sumbu mata hanya 16mm dan hiperopik. Seiring bertambahnya usia, sumbu mata tumbuh ke kisaran normal dan menjadi ortophorik, sehingga hiperopia fisiologis adalah hiperopia aksial. Dalam praktik klinis, hiperopia mungkin juga merupakan hasil dari kedua jenis daya tarik tersebut. Singkatnya, hiperopia dapat dibentuk oleh hiperopia refraktif akibat kelainan pada struktur sistem refraksi mata, hiperopia aksial akibat pemendekan relatif sumbu mata, atau hiperopia akibat adanya kedua faktor tersebut.