Sorotan klinis singkat tentang penyakit radang usus

Penyakit radang usus (IBD) adalah penyakit radang saluran usus yang kronis dan tidak spesifik, yang meliputi kolitis ulseratif (UC) dan penyakit Crohn (CD). Lesi UC hanya melibatkan kolon (usus besar), sedangkan lesi CD dapat melibatkan seluruh bagian saluran pencernaan, dengan ileum terminal dan usus besar yang berdekatan. Penyebab IBD tidak diketahui, tetapi ada empat faktor utama yang diduga berperan: warisan genetik, faktor lingkungan, flora usus, dan respons imun abnormal dalam usus. Usia orang yang didiagnosis dengan IBD umumnya antara 15-30 tahun. II. Gejala Utama Secara klinis, gejala pasien IBD bervariasi dalam tingkat keparahannya, terutama muncul sebagai diare, sakit perut, tinja berdarah, demam, malaise dan penurunan berat badan. Akibat keterlibatan inflamasi sistemik di luar saluran pencernaan, pasien dengan IBD dapat mengalami artralgia atau artritis, gangguan penglihatan atau mata, ruam kulit dan penyakit hati. Gejala-gejala biasanya menunjukkan perkembangan kronik yang lancar, tetapi juga dapat memburuk secara tiba-tiba dan berkembang menjadi bentuk fulminan, yang menyebabkan infeksi parah, perdarahan atau perforasi usus, atau bahkan mengancam nyawa jika tidak ditangani. Poin-poin diagnostik 1. Riwayat pasien, pemeriksaan pencitraan termasuk CT, X-ray, dan endoskopi saluran cerna harus digabungkan untuk menilai pasien secara komprehensif. 2. Perlu ditekankan bahwa tes tinja dan darah harus digunakan untuk menyingkirkan diare yang disebabkan oleh infeksi umum. Kelainan yang terlihat pada tes darah rutin meliputi: anemia, peningkatan penanda inflamasi, gangguan elektrolit (akibat diare), penurunan albumin (akibat inflamasi dan gangguan penyerapan nutrisi) dan kekurangan vitamin (umum terjadi pada pasien CD, akibat gangguan penyerapan nutrisi). 4. Endoskopi adalah alat diagnostik yang penting, termasuk gastroskopi dan kolonoskopi, tergantung pada lokasi lesi pasien. Biopsi pada lokasi yang dicurigai untuk pemeriksaan patologis sering kali memastikan diagnosis. Pilihan pengobatan 1. Pasien dengan IBD diobati dengan cara bertingkat, yaitu sesuai dengan tingkat keparahan pasien. Pada kasus yang ringan, pengobatan antiinflamasi, oral atau enema atau supositoria sudah cukup. Pada kasus yang lebih parah, imunomodulator atau imunosupresan harus digunakan, baik secara oral, subkutan atau dengan infus intravena. Pada kasus fulminan yang parah, hormon harus diberikan untuk menekan penyakit. Jika perawatan medis konservatif tidak efektif, perawatan bedah dapat dipertimbangkan. Selain itu, penting untuk diperhatikan bahwa pasien dengan IBD yang memiliki lesi yang melibatkan usus besar memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker usus besar, sehingga pengawasan kolonoskopi jangka panjang diperlukan untuk pasien-pasien ini.