Peringatan dini: refluks asam lambung dan mulas bisa menjadi penyakit!

“Gejala refluks asam lambung dan mulas adalah hal yang umum bagi banyak orang dan sering dianggap sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, ketika gejala ini sering terjadi, atau disertai dengan gejala lain, ini mungkin merupakan fenomena patologis, yang secara klinis dikenal sebagai “penyakit refluks gastro-esofagus”. GERD dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti: disfungsi sfingter esofagus bagian bawah; pengosongan lambung yang tertunda; berkurangnya fungsi peristaltik esofagus itu sendiri, yang mencegah pengangkatan refluks dengan cepat; penonjolan abnormal bagian lambung ke dalam rongga dada, membentuk hernia hiatus dan penghancuran penghalang anti-refluks alami, dan lain-lain. GERD disebabkan oleh refluks isi lambung dan duodenum ke dalam kerongkongan, yang dapat menyebabkan kerusakan pada mukosa kerongkongan dan pada kasus yang parah dapat menyebabkan refluks esofagitis, tukak kerongkongan, atau penyempitan kerongkongan, bahkan kanker. Ketika refluks masuk ke saluran pernapasan, hal ini juga dapat menyebabkan penyakit seperti pneumonia aspirasi dan asma. Selain GERD, refluks asam lambung dan gejala nyeri ulu hati dapat terjadi pada orang normal dan juga pada penderita maag. Namun, ketika gejala ini terjadi pada orang normal, sebagian besar berlangsung tidak lebih dari 5 menit setiap kali dan tidak lebih dari 1 jam sepanjang hari. Pada penyakit maag, gejala refluks asam dan mulas cenderung terjadi pada saat perut kosong dan dapat hilang setelah makan. Pada GERD, refluks asam lambung, nyeri ulu hati, regurgitasi, bersendawa dan nyeri di belakang tulang dada paling sering dialami setelah perut kenyang atau makan. Beberapa pasien dengan GERD dapat muncul dengan gejala yang tidak lazim, seperti sensasi abnormal di tenggorokan dan sesak napas di dada, yang terkadang dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Pengobatan GERD merupakan proses jangka panjang dan sistematis. Metode pengobatan seperti perubahan gaya hidup, obat-obatan dan pembedahan dapat digunakan. Karena gejala GERD terkadang tidak sesuai dengan derajat penyakitnya, dan gejalanya cenderung kambuh setelah penghentian pengobatan yang tidak tepat, maka pasien harus menjalani pengobatan rutin dan tinjauan rutin di bawah bimbingan dokter. Jika pengobatan tidak memuaskan, terapi esofagus dengan frekuensi radio atau pembedahan invasif minimal dapat dilakukan dengan gastroskopi.