Kelainan refraksi (miopi, hipermetropi, astigmatisme) dapat mempengaruhi kehidupan dan pembelajaran dan perlu dikoreksi sejak dini, terlepas dari metode koreksi yang dipilih, seperti memakai bingkai biasa, lensa kontak kornea (lensa kontak) atau bahkan operasi mata, semua harus didahului dengan optometri yang benar. Ada dua jenis utama optometri, yang pertama adalah optometri semu, yang juga dikenal sebagai optometri subjektif, yang didasarkan pada ketajaman visual yang dirasakan sendiri oleh pasien setelah memakai lensa untuk menentukan kekuatan refraksi. Hal ini dicirikan oleh metode yang relatif sederhana yang tidak memerlukan pupil yang melebar, cepat dan hasilnya diketahui pada saat itu juga. Sebagian besar ahli optik sekarang menggunakan metode ini, atau menggabungkannya dengan komputerisasi optometri. Jenis optometri lainnya adalah optometri objektif, di mana pupil sering dilebarkan sebelum optometri untuk menghilangkan penyesuaian mata, yang sangat membantu bagi anak-anak di bawah 14 tahun dan meningkatkan akurasi optometri. Namun demikian, metodenya lebih kompleks dan memerlukan pemeriksaan oleh seorang profesional yang sangat terlatih atau dokter mata. Pasien dengan glaukoma tidak boleh memiliki pupil yang melebar, dan orang yang berusia di atas 40 tahun biasanya tidak diberikan pupil yang melebar. Setelah pemeriksaan mata yang dilatasi, penyesuaian lebih lanjut harus dilakukan bersamaan dengan lensa percobaan untuk menentukan refraksi akhir.