Bagaimana melasma terbentuk?

  Melasma adalah kelainan pigmen yang didapat yang ditandai dengan bintik-bintik hiperpigmentasi simetris pada wajah. Patogenesisnya kompleks, dengan kerentanan genetik, radiasi ultraviolet, hormon, gangguan tiroid, kehamilan, dan obat-obatan yang terkait. Hal ini terjadi pada wanita usia subur dengan tipe kulit Fitzpatrick IV-VI dan prevalensi melasma berkisar antara 1,5 hingga 33,3%. Hal ini juga bisa dilihat pada pria.  1. Perubahan kadar hormon Prevalensi melasma pada wanita hamil berkisar antara 50-70 persen. Studi kadar hormon pada pasien melasma telah menemukan bahwa pasien telah secara signifikan meningkatkan hormon luteinizing dan mengurangi kadar estradiol serum, menunjukkan hipofungsi ovarium ringan subklinis. Autoimunitas tiroid dan melasma keduanya berhubungan secara signifikan, terutama pada wanita yang sedang hamil atau menggunakan OCP.  2. Obat-obatan 10% dari pasien yang menggunakan natrium fenitoin dapat mengembangkan hiperpigmentasi yang mirip dengan melasma. Obat ini berperan langsung dalam mendorong melanosit untuk mengeluarkan butiran melanin dan, selain itu, menginduksi peningkatan pigmentasi pada lapisan basal epidermis, yang dapat menghilang setelah beberapa bulan penghentian obat.  3. Peran cahaya tampak Studi telah menemukan bahwa UVA dan cahaya tampak dapat meningkatkan pigmentasi, terutama pada pasien dengan warna kulit yang lebih gelap (jenis kulit IV-VI). Selain itu, cahaya tampak lebih intens dan stabil untuk pasien dengan hiperpigmentasi daripada UVA. Penelitian telah menunjukkan bahwa cahaya tampak juga dapat menyebabkan pigmentasi kulit, menunjukkan perlunya tabir surya fisik untuk mencegah kambuhnya melasma.