Manifestasi klinis koma adalah hilangnya siklus bangun-tidur dan “tidur nyenyak” yang terus menerus di mana pasien tidak dapat terbangun. Pasien kehilangan semua persepsi, perhatian, pikiran, emosi, orientasi, penilaian, ingatan, dan banyak aktivitas mental lainnya. Tidak ada pemahaman tentang diri sendiri atau lingkungan eksternal dan tidak ada respons terhadap rangsangan eksternal. Pasien tidak dapat melakukan perintah sederhana. Ketika diberi rangsangan nyeri yang kuat, tidak ada respons yang disadari kecuali kadang-kadang ekspresi atau erangan yang menyakitkan. 1. Sindrom Atresia Sindrom atresia juga dikenal sebagai hilangnya kondisi eferen. Pasien waspada dan sadar akan keadaannya, tetapi mengalami tetraplegia dan kelumpuhan saraf otak di bawah saraf okulomotor, yang disebabkan oleh lesi bilateral pada pons ventral, yang melibatkan traktus kortikospinalis, traktus kortikopontinus, dan traktus kortikomeduler. Pasien sadar tetapi hanya dapat menunjukkan dengan gerakan mata vertikal dan mengedipkan mata. Penyebab lainnya termasuk tumor batang otak dan mielinolisis pontine sentral. Polineuropati yang parah, terutama sindrom Guillain-Barré, miastenia gravis, dan penggunaan obat penghambat persimpangan neuromuskular juga dapat menyebabkan kelumpuhan yang mirip dengan atresia. 2. Keadaan vegetatif persisten Pasien dalam keadaan vegetatif persisten kehilangan fungsi neurologis kognitif, namun tetap mempertahankan fungsi volunter seperti aktivitas jantung, pernapasan, dan pemeliharaan tekanan darah. Kondisi ini terjadi setelah koma dan ditandai dengan kurangnya kesadaran akan lingkungan sekitar atau defisit kognitif, tetapi mempertahankan siklus tidur-bangun. Gerakan spontan dapat terjadi dan mata dapat terbuka sebagai respons terhadap rangsangan eksternal, tetapi tidak ada ucapan dan tidak ada kepatuhan terhadap perintah. Banyak sindrom yang tidak didefinisikan secara tepat digunakan sebagai sinonim untuk keadaan vegetatif persisten, termasuk alfa; koma, kematian neokorteks, dan ketidaksadaran yang terus-menerus. Nama-nama ini kurang tepat dan harus dihindari bila memungkinkan. Diagnosis sindrom ini harus dilakukan dengan hati-hati dan hanya setelah melakukan pengamatan dalam jangka waktu yang lama.