Tujuan: Untuk menyelidiki karakteristik timbulnya sindrom tangan bengkak pada pasien hemodialisis, metode pengobatan intervensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi kambuhnya tangan bengkak. Metode: 88 pasien dengan tangan bengkak dibagi menjadi kelompok yang tidak kambuh dan yang kambuh menurut apakah tangan bengkak tersebut kambuh dalam periode pengamatan setelah perawatan. Lesi vena sentral diidentifikasi melalui pencitraan sub-intervensi dan diobati dengan pelebaran balon atau stenting. Hubungan antara riwayat pemasangan selang dan lesi vena sentral pada pasien dialisis diperiksa, dan modalitas pengobatan serta kekambuhan setelah pengobatan diamati. HASIL: Sebanyak 116 intervensi dilakukan pada 88 pasien, 15 di antaranya dirawat karena kawat pemandu tidak dapat dilewati atau prosedur lain digunakan, tidak ada kelainan vena sentral yang terlihat pada 3 orang, dan 70 sisanya dibuka vena sentralnya segera setelah pelebaran balon atau implantasi stent; 50 pasien memiliki riwayat penempatan vena jugularis interna ipsilateral, gejala tangan bengkak muncul 26,4±32,5 bulan sejak operasi endovaskular, dan lokasi lesi vena sentral Sebagian besar terletak di vena brakialis subklavia dan sefalika. Setelah intervensi, tangan bengkak berulang sebanyak 35 kali pada 23 pasien selama periode pengamatan, 6,9±4,9 bulan setelah perawatan terakhir. Meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara pelebaran balon dan pemasangan stent, proporsi pemasangan stent lebih tinggi pada kelompok yang kambuh. Kesimpulan: Pasien hemodialisis mengalami stenosis atau oklusi vena sentral akibat penempatan vena sentral, perubahan hemodinamik setelah fistula endovaskular arteriovenosa, dll., yang menyebabkan sindrom tangan bengkak. Masih terdapat tingkat kekambuhan yang tinggi dari sindrom tangan bengkak setelah perawatan balon atau implantasi stent, dan tingkat kekambuhan mungkin lebih tinggi pada mereka yang dirawat dengan implantasi stent.