Sperma dalam kaitannya dengan hasil kehamilan pada reproduksi berbantu

Faktor-faktor wanita diketahui sangat terkait dengan hasil reproduksi berbantu, seperti kualitas sel telur, usia ibu, ketebalan endometrium, dll., Jadi, apakah kualitas sperma mempengaruhi hasil reproduksi berbantu? Berikut ini disajikan tiga laporan terbaru di bidang ini. 1. Apakah usia donor sperma berhubungan dengan hasil kehamilan yang dibantu? Sebuah penelitian kohort retrospektif besar yang diterbitkan pada bulan Januari tahun ini di jurnal Human Reproduction (mengungkapkan bahwa usia donor sperma berhubungan dengan hasil reproduksi berbantu. Penelitian ini melibatkan 46.078 pasien yang terdaftar dari tahun 1991 hingga 2012 untuk reproduksi berbantu dengan menggunakan sperma donor (DI) atau fertilisasi in vitro (IVF) / intracytoplasmic monospermic microinjection (ICSI). Baik pada kelompok DI maupun IVF/ICSI, setelah menggunakan donor sperma berusia 41-45 tahun sebagai kelompok kontrol, kelompok usia donor sperma yang lain tidak secara signifikan meningkatkan angka kelahiran hidup dan juga tidak secara signifikan menurunkan angka keguguran. Oleh karena itu, kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penelitian lebih lanjut mungkin diperlukan di masa depan untuk mengkonfirmasi batas usia maksimal donor sperma. Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan, seperti: usia donor sperma merupakan indikator penting dari kualitas sperma, sehingga temuan saat ini tidak dapat diterapkan pada populasi umum, dan banyak faktor penting lainnya, seperti merokok, indeks massa tubuh ibu, dan lain-lain, yang tidak dapat ditentukan dalam penelitian ini. Korelasi penanda apoptosis pada spermatozoa dengan hasil kehamilan yang dibantu Secara tradisional, kualitas sperma telah dievaluasi hanya dengan menggunakan morfologi mikroskopis, tetapi morfologi saja bukan merupakan indikator yang lengkap untuk kualitas sperma. Sebuah penelitian di Polandia baru-baru ini mengkonfirmasi korelasi antara penanda apoptosis pada permukaan sperma dan kualitasnya, dan hasilnya diterbitkan dalam Human Cell edisi Januari. Penelitian ini merekrut 116 pria dari klinik infertilitas dan menguji air mani mereka untuk penanda apoptosis sel sperma, yaitu fosfatidilserin intraseluler-ekstraseluler (PST) dan sistein aspartat protease 3. Tingkat pembuahan distandarisasi berdasarkan proporsi presentasi prokariotik sel telur setelah pembedahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PST dan caspase-3 dapat dideteksi di tengah-tengah cermin aktif dan bahwa konsentrasi sperma, keunggulan morfologi dan viabilitas menunjukkan korelasi negatif dengan kedua penanda tersebut. Pada kelompok IVF, kedua penanda berkorelasi negatif secara signifikan dengan tingkat pembuahan; pada kelompok ICSI, kedua penanda tidak terkait dengan tingkat pembuahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PST dan caspase-3, yang terletak di segmen tengah spermatozoa, tidak hanya mengubah motilitas dan morfologi sperma, tetapi juga terkait erat dengan pembuahan sperma. Kedua penanda ini dapat diterapkan untuk mendeteksi kualitas sperma di masa depan. 3. Bagaimana jika indeks fragmentasi DNA sperma terlalu tinggi? Indeks Fragmentasi DNA Sperma adalah indikator yang mengevaluasi integritas struktural kromosom sperma. Sebuah penelitian di Swiss baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan ICSI untuk sampel sperma dengan DFI yang tinggi menghasilkan hasil reproduksi berbantu yang lebih memuaskan daripada IVF tradisional. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Andrology edisi Januari. Penelitian ini mengumpulkan 1.633 sampel dari siklus IVF versus ICSI dan mengkategorikan sampel sperma ke dalam empat kelompok dari DFI rendah hingga tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok IVF konvensional, tingkat embrio berkualitas tinggi dan tingkat kelahiran hidup secara signifikan lebih rendah seiring dengan meningkatnya indeks DFI. Dan tren ini tidak ditemukan pada kelompok ICSI. Untuk sampel sperma dengan DFI lebih tinggi dari 20%, angka kelahiran hidup setelah intervensi ICSI secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok IVF konvensional. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat aborsi spontan lebih tinggi pada kelompok ICSI dibandingkan dengan kelompok DFI konvensional, dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada tingkat kehamilan di antara kedua kelompok tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ICSI dapat menjadi pilihan yang lebih unggul untuk sperma dengan DFI yang lebih tinggi. Perlu juga dicatat bahwa penelitian ini merupakan analisis data retrospektif dan hasilnya perlu didukung oleh penelitian prospektif lebih lanjut.