Enkapsulasi selaput fibrosa, juga dikenal sebagai ‘kepompong perut’, dinamai pada tahun 1978 dan merupakan kondisi yang relatif jarang terjadi pada pembedahan perut. Kondisi ini ditandai dengan selaput fibrosa yang padat, berwarna putih keabu-abuan, keras, keras dan tebal yang menutupi seluruh atau sebagian usus kecil. Kondisi ini telah dilaporkan sebagai “enkapsulasi kepompong usus halus”, “pengurungan usus halus bawaan”, “enkapsulasi berserat spesifik stadium usus halus” dan “obstruksi usus adhesif intra-peritoneal” karena etiologi dan manifestasi klinis yang berbeda. Diet penting untuk pencegahan dan rehabilitasi pasien dengan enkapsulasi berserat. Pola makan yang tepat tidak hanya dapat mencegah terjadinya bungkusan berserat, tetapi juga berperan positif dalam rehabilitasi dan pengobatan bungkusan berserat. Dianjurkan 1 . Bifidobacterium bifidum kaya akan bifidobacteria, dapat meningkatkan gerak peristaltik saluran pencernaan dan meningkatkan fungsi saluran pencernaan. 250g untuk konsumsi langsung. 2, Rebung Kaya akan serat, meningkatkan ekskresi limbah dari saluran pencernaan. 100g dimakan dalam rebusan dengan iga babi. 3, batang bok choy Kaya akan serat dan juga vitamin, yang terakhir ini dapat membantu mengurangi respons inflamasi peritonitis dan meredakan sakit perut. 200g dimasak dalam air untuk dikonsumsi. Hindari 1. kacang panjang goreng Kacang panjang relatif kering dan memiliki efek iritasi yang signifikan pada peritoneum, yang tidak kondusif untuk pemulihan penyakit. Bisa makan kacang panjang kukus. 2, cabai memiliki iritasi tertentu pada selaput lendir saluran pencernaan, yang dapat menyebabkan manifestasi klinis nyeri seperti peritonitis. Makan lebih banyak sayuran dan makanan tidak pedas lainnya. 3. Bawang putih mentah adalah makanan yang menyengat dan mengiritasi, dan meskipun memiliki efek menghilangkan flora usus, bawang putih merupakan iritan yang signifikan bagi pasien peritonitis. Bisa digoreng dan dimakan dalam jumlah kecil.