Dalam beberapa tahun terakhir, dengan meluasnya penggunaan sediaan topikal glukokortikoid, dermatitis yang bergantung pada hormon secara bertahap meningkat dan menjadi penyakit yang umum di bidang dermatologi, yang membawa efek negatif pada kesehatan dan kecantikan kulit. Faktor penyebab utama meliputi: 1. penggunaan glukokortikoid yang tidak tepat; 2. pemilihan indikasi yang tidak tepat; 3. pemilihan tempat penggunaan yang tidak tepat; 4. durasi penggunaan topikal yang berlebihan; 5. penggunaan glukokortikoid sebagai kosmetik; 6. banyak kosmetik yang mengandung glukokortikoid, dll. Saat ini terdapat lima manifestasi klinis dan empat subtipe klinis dari dermatitis yang bergantung pada hormon (tipe perioral, wajah tengah, difus, dan pipi). Jenis dermatitis wajah: eritema wajah dan papula dengan kemerahan yang menyebar pada kulit dan kapiler yang melebar; dibedakan berdasarkan lokasi: tipe bibasal, tipe difus. Dermatitis seperti jerawat: jerawat yang tersebar secara padat, papula, bintil-bintil. Jenis kulit yang menua: Penuaan, kulit kering, bersisik, kerutan bertambah. Pasien dengan tipe ini sering kali mengalami dermatitis wajah. Hiperpigmentasi: Kulit wajah keabu-abuan dengan bercak-bercak berpigmen coklat pucat hingga coklat tua yang bersisik atau menyebar. Penebalan dan pemanjangan rambut halus: jenis ini sering dikaitkan dengan kapiler yang melebar dan hiperpigmentasi. Dermatitis yang bergantung pada hormon memiliki perjalanan yang kronis dan pemulihan penuh dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun karena rusaknya fungsi penghalang kulit. Dianjurkan untuk mencuci wajah dengan air dingin, hindari angin, sinar matahari dan rangsangan panas, jaga pikiran tetap tenang dan hindari kegembiraan emosional.