Bagaimana seharusnya diagnosis sindrom bangunan dysphoric dibuat?

  Diagnosis sindrom bangunan yang merugikan dapat dibuat berdasarkan tanda dan gejala. Delapan manifestasi utama sindrom bangunan yang diidentifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah: iritasi pada mata, terutama kornea, mukosa hidung dan mukosa laring.  Kekeringan pada bibir dan selaput lendir lainnya. Sering mengalami eritema kulit, urtikaria, eksim, dll. Mudah lelah. Sakit kepala dan infeksi saluran pernapasan. Tanda-tanda ini dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis.  Selain itu, diagnosis sindrom bangunan dysphoric didasarkan pada presentasi klinis pasien, onset pada sekelompok rekan kerja, perbaikan gejala setelah meninggalkan gedung, tidak adanya kelainan patofisiologis dan tidak adanya kesamaan etiologi.  Sindrom bangunan yang merugikan bukanlah diagnosis spesifik dan tidak perlu menyingkirkan semua kemungkinan lain sebelum mengambil tindakan untuk mengatasinya.  Diagnosis harus ditegakkan dengan memperhatikan gejala-gejala pasien, riwayat pekerjaan dan keadaan lingkungan termasuk jam kerja dan lingkungan rumah. Ciri-ciri utama adalah: informasi dasar pribadi; gejala; deskripsi proses kerja dan lingkungan dalam ruangan, ventilasi, sumber paparan, debu, kelembaban, suhu dan cahaya; apakah ada perubahan dalam lingkungan seperti renovasi baru, peralatan baru, atau perubahan lain yang relevan; rekan kerja dengan gejala yang sama dan gejala yang dapat membaik setelah meninggalkan gedung cukup penting untuk diagnosis sindrom bangunan yang baik; beberapa faktor lain juga harus disertakan Faktor-faktor lain seperti kepuasan kerja, stres kerja, dll.