Laporan Bank Dunia “Living Longer: Population Ageing in East Asia and the Pacific”, yang dirilis baru-baru ini di Beijing, menyebutkan bahwa di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, perawatan yang berlebihan terlihat jelas pada populasi lansia, dengan peningkatan tajam pada tingkat rawat inap setelah usia 65 tahun, rata-rata hari rawat inap yang lebih banyak, serta rumah sakit yang menyediakan perawatan akut mengambil peran sebagai fasilitas keperawatan. Di Cina, diperkirakan 30-50 persen dari pasien rawat inap dapat dirawat secara rawat jalan. Menurut laporan tersebut, sistem perawatan kesehatan di Asia Timur merupakan sistem yang berpusat pada rumah sakit yang tidak efisien, dengan penuaan yang cepat dan meningkatnya beban penyakit kronis yang membuat kebutuhan akan pengendalian biaya menjadi semakin mendesak. Fasilitas layanan kesehatan primer belum memiliki kapasitas untuk mengelola penyakit kronis secara efektif, dan pasien yang lebih tua sering kali tidak menerima perawatan yang tepat waktu dan efektif, yang menyebabkan komplikasi akut dan duplikasi pengobatan, yang meningkatkan biaya kesehatan. Di sebagian besar negara di Asia Timur, pasien membayar sebagian besar biaya kesehatan mereka secara out-of-pocket; di Cina, 18 persen rumah tangga lansia membayar lebih dari 25 persen dari keseluruhan pengeluaran rumah tangga mereka untuk perawatan medis. Laporan ini merekomendasikan bahwa sistem kesehatan di negara-negara Asia Timur harus bergeser dari sistem yang berpusat pada rumah sakit menjadi sistem yang berpusat pada perawatan primer, memperkuat pembagian kerja di antara berbagai tingkat perawatan, menyediakan layanan yang berkesinambungan dan berjangka panjang untuk pasien dengan penyakit kronis, dan mereformasi cara pembayaran asuransi kesehatan.