Beberapa fakta medis sehari-hari diyakini sebagai “aturan emas”, tetapi pada kenyataannya mereka mungkin tidak benar. Sebuah artikel terbaru di British Medical Journal mencantumkan beberapa mitos medis yang sudah menjadi “kesepakatan”. Mitos 1: Kuku dan rambut masih tumbuh setelah kematian Fakta: Pada awalnya banyak dokter mengira hal ini benar, tetapi setelah analisis mendalam, mereka menyadari bahwa hal itu tidak mungkin. Ketika seseorang meninggal, kulit tubuh akan mengering dan jaringan kulit, terutama kulit, akan menyusut. Jadi ketika kulit mengering, kuku akan terlihat lebih menonjol, dan begitu pula ketika kulit menyusut, rambut akan terlihat lebih panjang, dan hilangnya suplai nutrisi ke akar membuat rambut menjadi lebih mengembang. Mitos 2: Anda harus minum setidaknya 8 gelas air sehari Fakta: Dr. Rachel Mevereman, seorang dokter anak di Indiana University School of Medicine, mengatakan, “Tidak ada bukti medis yang menyatakan bahwa orang harus minum air sebanyak itu setiap hari!” Menurut Verriman, pandangan ini mungkin berawal dari rekomendasi Asosiasi Nutrisi pada tahun 1945 bahwa orang harus mengonsumsi delapan cangkir (setara dengan 64 ons) cairan per hari. Bertahun-tahun kemudian, rekomendasi 8 gelas cairan tersebut berkembang menjadi 8 gelas air. Buah-buahan dan sayuran juga mengandung banyak air dalam menu makanan sehari-hari, jadi jika Anda harus minum 8 gelas air sehari, itu adalah jumlah yang terlalu banyak untuk asupan cairan. Mitos #3: Kita hanya menggunakan 10 persen dari otak kita Fakta: Pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI), pemindaian positron tomography (PET) dan penelitian pencitraan lainnya menunjukkan bahwa tidak ada area otak yang masih tertidur, atau bahkan saraf atau sel yang tidak aktif. Penelitian terbaru ini mengungkapkan bahwa studi metabolik dari proses pengolahan kimiawi dalam sel otak tidak menunjukkan adanya area yang tidak berfungsi dalam otak. Dr Aaron Carroll, profesor pediatri di Indiana University School of Medicine, mengatakan bahwa gagasan bahwa “otak manusia hanya digunakan 10%” berasal dari awal abad ke-20, dan bahwa pandangan ini mungkin terinspirasi dari dorongan untuk meningkatkan kualitas diri dan merangsang potensi otak secara maksimal. Mitos 4: Mencukur bulu tubuh secara teratur akan membuatnya tumbuh lebih cepat, lebih tebal, dan lebih gelap Fakta: Sebuah studi klinis yang dilakukan pada tahun 1928 yang membandingkan tingkat pertumbuhan bulu tubuh di area kulit yang dicukur dan yang tidak dicukur menunjukkan bahwa bulu di area kulit yang tidak dicukur tidak lebih gelap atau lebih lebat, dan tidak tumbuh secepat itu. Sejumlah penelitian terbaru telah mengkonfirmasi bahwa ketika bulu tubuh dicukur, bulu tubuh akan tumbuh di bagian atas akar yang lebih tebal dan terlihat lebih tebal saat terus tumbuh. Dan perkembangan akhir dari rambut tubuh yang lebih tebal dan lebih gelap terutama tergantung pada paparan sinar matahari. Mitos 5: Membaca dalam cahaya redup dapat merusak penglihatan Fakta: Melalui penelitian terhadap sejumlah besar pasien, dokter mata telah mengkonfirmasi bahwa membaca dalam cahaya redup akan menghasilkan karakteristik kelelahan mata yang signifikan, tetapi fitur ini bersifat sementara dan tidak akan berdampak jangka panjang terhadap fungsi penglihatan. Pengamatan terhadap pasien mata kering juga menemukan bahwa membaca dalam cahaya redup hanya menyebabkan ketegangan mata sementara, dan gejalanya akan hilang segera setelah berhenti membaca. Bahkan, tidak sulit untuk membayangkan bahwa sebelum penemuan lampu listrik, manusia telah membaca di bawah alat penerangan yang redup seperti lilin dan lampu parafin, dan pada saat itu tidak menghasilkan banyak orang rabun. Saat ini, saya khawatir bahwa peningkatan jumlah rabun jauh masih terkait dengan lamanya waktu dan frekuensi membaca. Mitos 6: Sinyal ponsel memiliki efek mengganggu pada peralatan rumah sakit Fakta: Pada tahun 2002, sebuah situs web pemerintah AS mempublikasikan berita bahwa karena gangguan ponsel, instrumen medis di unit perawatan intensif menyuntikkan pasien dengan adrenalin dalam jumlah besar tanpa alasan. Hal ini diikuti oleh sebuah jurnal medis yang mengaitkan 100 kesalahan medis sejak tahun 1993 dengan gangguan ponsel, sebuah kesimpulan yang menjadi kepercayaan umum setelah sebuah artikel satu halaman penuh di Wall Street Journal menyoroti fakta bahwa ponsel dapat menyebabkan kesalahan medis dengan mengganggu sinyal dari peralatan rumah sakit. Faktanya, tidak ada catatan dalam literatur apa pun tentang pasien yang meninggal akibat gangguan sinyal ponsel pada peralatan medis, dan hampir tidak ada catatan tentang peralatan yang tidak berfungsi, alarm palsu, dll., yang disebabkan oleh ponsel. Yang paling relevan adalah penelitian di Inggris yang menyimpulkan bahwa ponsel memiliki efek interferensi sebesar 4% pada peralatan medis dalam jarak 1 meter dari peralatan tersebut, dengan 0,1% dari efek tersebut lebih terasa. Selain itu, pada tahun 2005, Ogilvy Clinic di Inggris melakukan survei: 510 tes pada 16 perangkat medis dan 6 ponsel menunjukkan gangguan yang signifikan pada 1,2 persen kasus. Demikian pula, pengujian di negara-negara Eropa lainnya menunjukkan kesimpulan yang sama, yaitu bahwa hanya ada gangguan dalam jarak 1 meter. Sebuah studi baru dari tahun 2007 kembali menempatkan ponsel dalam perspektif: dalam 300 pengujian di 75 bangsal, ponsel sama sekali tidak mengganggu peralatan medis dalam penggunaan normal. Sebaliknya, survei lain menunjukkan bahwa dokter yang membawa ponsel ke klinik sangat mengurangi risiko penundaan perawatan pasien karena miskomunikasi.