Kesejahteraan emosional dapat secara langsung mempengaruhi seluruh proses dan kualitas konsepsi, kehamilan, dan kelahiran seorang wanita. Perawatan IVF adalah perjalanan yang istimewa bagi tubuh dan pikiran. Masalah privasi, betapa berharganya embrio, beban mental dan fisik, semuanya membuat para ibu yang menjalani IVF berada di bawah tekanan psikologis yang tak terkatakan. Tekanan psikologis sering kali membuat para wanita menjadi gugup, sehingga menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim, yang mengakibatkan embrio tidak dapat tertanam dengan baik dan berujung pada kegagalan pemindahan embrio IVF. Pasien harus secara aktif bekerja sama dengan perawatan dokter. Semakin banyak dokter mengetahui tentang pasien, semakin besar peluang keberhasilannya. Penelitian oleh badan-badan profesional: Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Inggris, Human Reproduction (Reproduksi Manusia), menunjukkan bahwa stres dan kecemasan seperti itu dapat mengurangi tingkat keberhasilan kehamilan. Mereka merekrut 373 wanita berusia antara 18 dan 40 tahun, yang tidak ada yang memiliki masalah ketidaksuburan dan sedang mempersiapkan kehamilan. Selama studi tindak lanjut selama satu tahun, para wanita secara teratur diuji untuk “alfa amilase” dalam air liur mereka. Enzim ini adalah “biomarker” untuk stres, dan tingkat yang lebih tinggi menunjukkan tingkat stres yang lebih tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa sepertiga dari wanita tersebut memiliki kadar alfa amilase yang tinggi, dan bahwa wanita dengan tingkat stres tinggi ini rata-rata 29 persen lebih kecil kemungkinannya untuk hamil dibandingkan wanita lain, dan risiko mereka untuk tidak dapat hamil dalam waktu satu tahun menjadi tiga kali lipat. Pesan untuk para pasien: Kami menyarankan agar pasangan yang menjalani perawatan IVF berfokus pada pelepasan stres bersama-sama, menumbuhkan pola pikir yang rileks dan tenang, serta mendapatkan makanan spiritual dalam perjalanan mereka menjadi orang tua.