Beberapa orang alergi terhadap makanan tertentu (misalnya kacang tanah, susu, telur, dll.) yang, jika dimakan secara tidak sengaja, dapat memicu respons kekebalan tubuh dengan intensitas yang berbeda-beda. Dalam banyak kasus, makanan yang kita konsumsi secara halus menghindari respons kekebalan sistem pencernaan melalui mekanisme yang disebut ‘toleransi oral’, meskipun mekanisme ini belum dipahami dengan baik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sel T regulator (terutama sel T regulator perifer, pTreg) mungkin terlibat dalam proses ini. Sel pTreg dibedakan dari sel T konvensional dan terutama ditemukan di usus. Fitur distribusi ini menyiratkan bahwa mereka cenderung dipengaruhi oleh bakteri komensal usus. Percobaan sebelumnya telah menemukan bahwa sebagian sel T CD4+ antigen-spesifik dapat diubah menjadi sel pTreg dengan memberikan antigen oral pada tikus, tetapi apakah hal ini terkait dengan jenis makanan tertentu masih belum jelas. Untuk menjelaskan hal ini, kelompok Charles D. Surh dari Institut Imunologi di Korea Institute of Basic Medical Sciences melakukan penelitian terperinci, yang hasilnya diterbitkan dalam edisi terbaru Science. Pertama, mereka melakukan eksperimen yang sangat mengesankan: serangkaian tikus AF (Antigen Free) diperoleh dengan mengontrol pemberian makan tikus GF secara kimiawi pada makanan yang diidentifikasi tidak mengandung senyawa makromolekul apa pun (yaitu secara efektif menghindari adanya antigen makanan). Jumlah limfosit di lamina propria subkutan usus halus tikus AF secara signifikan lebih rendah, terutama jumlah sel T CD4+. Fenomena ini menunjukkan bahwa jumlah sel T CD4+ dalam usus diatur oleh antigen dalam makanan. Kemudian, para penulis menemukan bahwa jumlah sel Treg CD4+ di lamina propria usus halus juga secara signifikan lebih rendah pada tikus AF dibandingkan dengan tikus SPF, fenotipe yang mirip dengan GF. Dengan analisis lebih lanjut, komponen besar dari populasi sel Treg yang berkurang ini adalah sel pTreg. Kesimpulannya, hasil ini menunjukkan bahwa antigen dalam makanan dapat mendorong proliferasi dan diferensiasi sel pTreg di lamina propria usus. Selanjutnya, para penulis menganalisis dengan tepat antigen makanan (cair atau padat) mana yang relevan untuk pengembangan pTreg usus. Sama halnya dengan yang di atas, mereka memberi makan berbagai jenis tikus (SPF, AF, GF) dengan makanan yang dapat dikunyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel pTreg di lamina propria usus halus meningkat secara signifikan pada kelompok tikus percobaan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa antigen dalam makanan padat memainkan peran penting dalam perkembangan sel-sel ini di dalam usus. Selain antigen makanan, mikroorganisme usus juga berperan penting dalam pengembangan pTreg. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa mikroba usus dapat mendorong diferensiasi sel Treg t+ RORgamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel-sel ini berkurang secara signifikan dalam usus tikus AF dan GF (kontrol positif). Selain itu, pembentukan sel t-Treg RORgamma juga secara signifikan lebih rendah pada tikus AF, tidak seperti pada tikus GF. Para penulis menemukan bahwa jumlah sel RORgamma t+ Treg dipengaruhi oleh mikroorganisme usus dan jumlah sel ROR gamma- Treg dipengaruhi oleh antigen makanan, baik oleh kolonisasi bakteri atau praktik pemberian makan yang berubah. Selanjutnya, para penulis menemukan bahwa jumlah CD103+ CD11b+ DC usus juga berkurang secara signifikan pada tikus AF. Fraksi sel ini terutama digunakan untuk menginduksi diferensiasi sel Treg; sebaliknya, jumlah CD103 – CD11b+ DC dalam usus tikus AF tiga kali lebih tinggi daripada tikus SPF (GF). Sebagai kesimpulan, para penulis menunjukkan bahwa antigen dalam makanan merupakan faktor kunci dalam induksi diferensiasi sel pTreg di lamina propria usus halus, yang akan memainkan peran penting dalam menjaga lingkungan toleransi imun di usus; kurangnya antigen dalam makanan menyebabkan penurunan jumlah DC yang menginduksi produksi pTreg di usus, yang pada gilirannya memengaruhi jumlah pTreg. Karena antigen ini sering terdapat dalam makanan padat, hal ini juga mengungkapkan mengapa anak-anak sering mengalami gejala alergi makanan yang menghilang seiring berjalannya waktu.