Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit autoimun yang melibatkan berbagai sistem dan organ serta memiliki banyak autoantibodi. Kerusakan jaringan disebabkan oleh adanya sejumlah besar autoantibodi patogen dan kompleks imun dalam tubuh. Manifestasi klinis SLE dapat mencakup kerusakan pada berbagai sistem dan organ, seperti kulit, sendi, membran plasma, jantung, ginjal, sistem saraf pusat, sistem darah, dll. Manifestasi klinis SLE bervariasi selama fase aktif atau kambuh, tetapi pada sebagian besar pasien, perubahan tes laboratorium dan gejala klinis disinkronkan, sehingga kombinasi tes laboratorium dapat menentukan aktivitas penyakit dengan lebih jelas dan menentukan rencana pengobatan. Ada berbagai sistem yang tersedia untuk menentukan aktivitas SLE. Tes laboratorium utama meliputi: tes darah rutin (penurunan limfosit secara signifikan terkait dengan aktivitas SLE dan tingkat sedimentasi meningkat selama fase aktif), tes urin rutin (proteinuria, hematuria, dan tubuluria atau pusuria mungkin ada dalam berbagai tingkat), tes imunologi (komplemen dan protein C-reaktif), autoantibodi (antibodi anti-ds-DNA, yang spesifik untuk SLE), dan tingkat tes positif yang tinggi. Potensi antibodi menurun seiring dengan remisi), tes biokimia (fungsi hati dan ginjal, elektroforesis protein, peningkatan gamma globulin, yang biasanya sejajar dengan aktivitas penyakit dan menurun seiring dengan membaiknya penyakit, sehingga dapat juga digunakan sebagai indikator untuk pengamatan dinamis penyakit), dll.