I. Definisi tonus otot Tonus otot mengacu pada ketegangan otot, yaitu ketegangan antara titik awal dan titik akhir otot, yang menjadi dasar untuk mempertahankan berbagai postur dan gerakan tubuh. Secara klinis dapat dinyatakan sebagai berikut: 1. Nada otot istirahat: adalah ketegangan otot ketika seseorang berbaring dengan tenang saat istirahat. 2. Nada postural: adalah nada otot ketika seseorang berada dalam postur tertentu. 3 . Nada otot motorik: mengacu pada ketegangan otot selama gerakan. 2, perkembangan tonus otot pediatrik normal 1, periode janin: sebelum 28 minggu tonus otot sangat rendah, dengan bertambahnya usia, tonus otot berangsur-angsur meningkat. 2 . Periode neonatal: ini menunjukkan peningkatan tonus otot fleksor yang nyata dan postur tungkai yang tertekuk (fase fleksi pertama). 3 . 2-3 bulan: tonus fleksor berangsur-angsur menurun, tonus ekstensor berangsur-angsur meningkat, dan muncul postur ekstensi asimetris, yaitu postur ATNR (fase ekstensi pertama). 4 . 4-6 bulan: tonus fleksor meningkat, ekstremitas melentur secara simetris dan postur ATNR menghilang (fase fleksi kedua). 5 . Setelah 7 bulan: Dengan perkembangan lebih lanjut dari korteks, tonus fleksor secara bertahap menurun, gerakan fleksor dan ekstensor yang terkoordinasi muncul, dan tungkai dapat dengan bebas diperpanjang (fase ekstensi kedua), secara bertahap berkembang ke posisi berdiri. III. Signifikansi klinis dari tonus otot yang abnormal Sistem saraf melakukan kontrol hirarkis terhadap gerakan. Refleks detrusor pada tingkat sumsum tulang belakang (tingkat yang lebih rendah) adalah dasar dari gerakan biasa, pusat supraspinal dan formasi retikuler (tingkat menengah) mengatur refleks tulang belakang, sedangkan otak (tingkat yang lebih tinggi) mengawasi seluruh sistem motorik, dan melalui pengaturan pusat tingkat yang lebih rendah, ia menghambat kontraksi kelompok otot rangka sehingga tubuh dapat mempertahankan postur dan otonomi tertentu selama aktivitas normal. Gerakan yang terkoordinasi. Kelainan pada tonus otot merupakan indikasi penting untuk diagnosis dan pengetikan cerebral palsy. Jelaslah bahwa ada pola-pola tertentu dalam perkembangan tonus otot anak, dan seseorang tidak dapat secara akurat menentukan apakah itu abnormal tanpa mengetahui pola perkembangan anak normal, dan tonus otot yang tidak normal merupakan indikasi penting dari cerebral palsy.