Para psikiater telah menggunakan konsep gangguan mental sejak tahun 1990-an. Gangguan mental mengacu pada serangkaian gejala atau perilaku kejiwaan yang dapat diidentifikasi secara klinis (seperti depresi, kecemasan, halusinasi, delusi, atau perilaku minum alkohol yang berlebihan, dll.), yang dalam banyak kasus disertai dengan tekanan dan/atau gangguan fungsi pribadi. Penyebabnya bisa karena faktor fisik atau psikologis, atau keduanya. Adanya gejala psiko-perilaku yang terisolasi yang tidak menyebabkan tekanan mental atau mengganggu fungsi individu tidak dapat digambarkan sebagai gangguan mental. Sebagai contoh, jika seseorang takut pada tikus, tetapi jarang bertemu dengan tikus ketika tinggal dan bekerja di kota, dan ketakutan terhadap tikus tidak menyebabkan tekanan atau gangguan mental yang signifikan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan mengalami gangguan mental. Bayangkan orang tersebut berpindah ke lingkungan di mana tikus sering dijumpai, atau bahkan melihat tikus hidup yang berlari atau tikus mati di jalan setapak. Ia akan takut untuk keluar rumah, bekerja di ladang atau melakukan hal lain, karena ia akan merasa takut dan tegang setiap hari. Gejala yang muncul – rasa takut yang berlebihan terhadap tikus; tekanan mental – rasa takut dan stres sepanjang hari; gangguan fungsional – kesulitan dalam melakukan tugas sehari-hari. Dengan demikian, elemen-elemen untuk diagnosis gangguan mental sudah ada.