Mitos tentang nutrisi dan kesehatan dalam pola makan anak

  Laporan Survei Gizi Anak dan Remaja Nasional menunjukkan bahwa meskipun standar hidup saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan 10 tahun yang lalu, proporsi anak-anak dan remaja yang memiliki gizi cukup baik belum meningkat secara signifikan. Anak-anak berada pada tahap perkembangan fisik dan intelektual yang sangat cepat, dan nutrisi yang memadai diperlukan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di semua tahap perkembangan, tetapi terlalu banyak nutrisi dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis. Dari tahun-tahun awal kehidupan bayi, hingga kesuksesan orang dewasa, pengasuhan keluarga sangat erat kaitannya. Meskipun banyak orang tua sekarang menghargai pentingnya memilih makanan bergizi untuk anak-anak mereka, masih banyak kesalahpahaman tentang pengaturan dan campuran makanan.  Mitos 1: “Susu + telur” adalah sarapan terbaik Sarapan sereal yang ideal sangat penting. Sereal dengan cepat diubah menjadi glukosa dalam tubuh, jadi sarapan harus mengandung makanan pokok seperti roti, roti gulung, mie, dan sereal untuk memastikan bahwa otak Anda memiliki energi yang dibutuhkan untuk belajar di pagi hari. Padukan dengan makanan yang kaya akan protein berkualitas tinggi seperti susu atau susu kedelai, telur atau daging tanpa lemak akan membuat makanan tersebut bertahan lebih lama di dalam perut dan membuat Anda lebih berenergi di pagi hari.  Mitos 2: Semakin banyak Anda makan, semakin bernutrisi Banyak orang tua yang percaya bahwa semakin banyak Anda makan, semakin mudah untuk memenuhi kebutuhan berbagai nutrisi, tanpa menyadari bahwa masalah seperti obesitas dan perlemakan hati menjadi semakin muda. Ngemil adalah pedang bermata dua yang memengaruhi kesehatan anak. Camilan yang tepat, tepat waktu, dan tidak berlebihan dapat menambah asupan makanan yang kurang. Pertama, pilihlah makanan sehat seperti biskuit, buah, dan susu, serta hindari makanan tinggi lemak dan berenergi tinggi; kedua, tambahkan di antara waktu makan dan hindari makan dalam waktu satu jam sebelum waktu makan utama atau sebelum tidur; dan sekali lagi, tambahkan waktu makan tanpa mempengaruhi asupan makanan utama.  Mitos 3: Anda harus makan lebih banyak daging untuk menambah masa belajar Anda Saat ini, anak-anak berada di bawah tekanan berat untuk belajar, sehingga orang tua menyajikan ikan dan daging berukuran besar setiap hari. Faktanya, nilai gizi daging terutama dalam menyediakan protein berkualitas tinggi, yang merupakan nutrisi penting setiap hari, tetapi jumlah yang dibutuhkan jauh lebih sedikit daripada karbohidrat. Karbohidrat adalah sumber energi utama dan energi yang cukup dibutuhkan untuk meningkatkan pemanfaatan protein dalam tubuh. Sebaliknya, jika protein tidak dimetabolisme dengan baik, maka akan menyebabkan lebih banyak limbah beracun yang menumpuk di dalam darah, sehingga membuat orang merasa mual dan lelah, yang pada gilirannya tidak kondusif untuk belajar.  Mitos 4: Minum sup sebagai pengganti makan daging Beberapa anak tidak suka makan daging, orang tua merebus daging menjadi sup, berpikir bahwa esensi daging ada di dalam sup, minum sup dapat menggantikan makan daging. Faktanya, kesegaran kaldu hanyalah lindi nitrogen dari daging yang dilarutkan dalam sup, tetapi sebagian besar protein dalam daging tetap berada di dalam daging.  Mitos 5: Mengonsumsi suplemen kesehatan secara membabi buta Suplemen kesehatan tidak dapat menggantikan pola makan yang wajar. Berdasarkan pola makan yang masuk akal, suplemen dapat dikonsumsi untuk nutrisi yang dibutuhkan anak-anak dalam jumlah besar tetapi umumnya tidak cukup dikonsumsi, seperti kalsium, zat besi, vitamin C dan vitamin B. Namun, yang terbaik adalah mengonsumsi suplemen di bawah bimbingan dokter untuk menargetkan nutrisi yang kurang pada anak Anda.