Kelembaban dan ketidakbersihan di area anorektal paling sering disebabkan oleh fungsi dasar panggul dan sfingter yang tidak normal serta inkontinensia anus. Fungsi anorektum memiliki mekanisme yang kompleks yang mencakup interaksi berbagai faktor yang memungkinkan buang air besar kapan saja dengan kemampuan untuk mempertahankan kontrol diri. Oleh karena itu, pemeriksaan tertentu dapat menguji salah satu aspek dari mekanisme ini, dan evaluasi klinis harus didasarkan pada kombinasi temuan. Tes diagnostik yang umum digunakan untuk mengevaluasi fungsi dasar panggul dan sfingter meliputi: 1. Manometri anorektal: meliputi tekanan istirahat yang dikontrol oleh sfingter anus internal, tekanan maksimum sfingter eksternal selama kontraksi acak, dan ambang batas perseptual rangsangan selama diastol. Pada inkontinensia tinja, tekanan istirahat anal dan tekanan maksimum menurun. 2 . Elektromiografi: Ini adalah dasar obyektif untuk mencerminkan aktivitas fisiologis otot dasar panggul dan otot sfingter untuk memahami lokasi dan tingkat kerusakan saraf dan otot. 3 . Pencitraan tinja: dapat merekam perubahan dinamis selama evakuasi tinja, dan melalui perubahan sudut rektal, dapat menyimpulkan keadaan dan tingkat kerusakan otot puborektal. 4, tes enema saline: 1500ml saline disuntikkan ke dalam rektum dalam posisi duduk, dan kebocoran dan volume retensi maksimum dicatat untuk memahami kemampuan pengendalian diri buang air besar. Volume yang tertahan berkurang atau nol jika terjadi inkontinensia tinja. 5, ultrasonografi saluran anus: dapat secara akurat menentukan lokasi cacat sfingter anus dan asimetri mengukur ketebalan sfingter internal. Pertanyaan yang cermat dan pemeriksaan fisik dapat mengidentifikasi penyebab sebagian besar inkontinensia tinja. Pemeriksaan radiologis dan fisiologis sebelum perawatan dapat memastikan diagnosis, dan kelainan yang relevan pada fungsi saluran cerna serta deteksi cacat sfingter anus dapat memberikan informasi awal yang obyektif. Proktitis adalah penyakit yang sering terjadi, dan penyebab proktitis masih belum jelas, terutama diduga terkait dengan stimulasi inflamasi kronis, schistosomiasis, wasir, fistula anus, fisura anus, keringat bernanah, keganasan tumor jinak, penyakit menular seksual, pola makan, dan faktor lainnya.