Sepuluh prinsip dasar bedah laparoskopi

1. Prinsip poros cermin: laparoskop, target, dan monitor membentuk sumbu pusat dari seluruh operasi. Personil yang berdiri dan lubang tusukan harus dirancang dan diimplementasikan di sekitar sumbu pusat ini. 2, prinsip berdiri siku datar: sesuaikan meja operasi sehingga ketinggian dinding perut anterior pneumoperitoneum buatan pasien sejajar dengan siku tertekuk 90 derajat operator, yang dapat meminimalkan kelelahan operator saat beroperasi dan paling sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ergonomi. 3, prinsip panjang yang sama dari tungkai atas: berbagai kabel di meja operasi (saluran hisap, saluran pisau listrik, kabel optik, kabel kamera, dll.) Di atas titik tetap panjang dan tungkai atas operator sama, kira-kira sama dengan tinggi operator dikurangi 100 cm. 4, prinsip distribusi segitiga: laparoskop dan lubang operasi tangan kiri dan kanan operator didistribusikan sejauh mungkin ke dalam segitiga sama sisi bidang terbalik, dan lubang operasi tambahan lainnya ditempatkan secara fleksibel di sekitar segitiga inti ini sesuai dengan kebutuhan bedah. 5, 60 derajat prinsip sudut silang: mengacu pada instrumen tangan kiri dan kanan operator dalam target target dengan pengoperasian sudut silang mendekati 60 derajat, prinsip yang lebih ergonomis. 6, prinsip bottom-up: karena akses visual bedah laparoskopi bergeser 90 derajat dari pusat pandang bedah terbuka tradisional, bedah laparoskopi sebagian besar dimulai dari langsung di bawah target ke diseksi bawah anterior dan posterior bawah, sedangkan bedah terbuka sebagian besar dimulai dari langsung di depan target ke diseksi pemisahan anterior bawah dan anterior atas. 7, prinsip koagulasi gradien: penggunaan pisau listrik, pisau ultrasonik dan peralatan bedah listrik lainnya koagulasi memotong struktur jaringan tubular menggunakan teknik koagulasi 6-8-10 dapat membuat ujungnya yang patah membentuk gradien koagulasi protein yang lebih panjang, sejauh mungkin untuk mengurangi risiko komplikasi pembedahan akibat perubahan tekanan intraoperatif dan pasca operasi pada lumen kerak pada ujung yang patah. 8. Prinsip konservasi suplai darah: Ketika pembuluh donor utama target lebih tipis dari biasanya, kita harus sangat waspada terhadap keberadaan cabang-cabang sampingnya, cabang-cabang varian atau pembuluh-pembuluh cabang yang menembus. 9, prinsip tahapan progresif: operasi laparoskopi harus dilakukan selangkah demi selangkah sesuai dengan prinsip mudah ke sulit, sederhana ke kompleks, selangkah demi selangkah. Hindari “lompatan besar ke depan” ketika keterampilan dasar tidak solid, jika tidak, “satelit” tidak akan dilepaskan dan menjadi “meteor”. 10. Prinsip optimasi komprehensif: yaitu memperhitungkan sepenuhnya kondisi aktual pasien, keterampilan yang dimiliki oleh operator dan berbagai kondisi material obyektif, mengoptimalkan konsep desain dan tujuan operasi, mengoptimalkan pendekatan anestesi dan bedah, serta mengoptimalkan prosedur aplikasi untuk setiap pasien.