Cara mencegah dan melakukan intervensi untuk anak-anak yang berisiko tinggi mengalami alergi

  Manifestasi klinis penyakit alergi muncul secara bertahap dalam urutan kronologis, dengan eksim dan alergi makanan yang muncul dalam 1-2 bulan pertama kehidupan dan kemudian berkembang menjadi penyakit alergi lainnya seperti asma, rinitis alergi, dan urtikaria, yang disebut dengan proses alergi.  Alergi berhubungan dengan genetik dan risiko alergi pada bayi dengan riwayat alergi pada salah satu orang tua adalah 20-40%, meningkat menjadi 50-70% pada bayi dengan alergi pada kedua orang tua. Ini berarti anak berisiko tinggi mengalami alergi.  Penelitian telah menunjukkan bahwa terjadinya penyakit alergi pada ibu di akhir masa kehamilan dapat secara signifikan meningkatkan kejadian alergi pada bayi, terutama serangan asma. Oleh karena itu, memperkuat perawatan prenatal untuk mencegah penyakit alergi pada wanita hamil dengan riwayat alergi dapat berdampak positif pada pencegahan alergi bayi.  Sejumlah penelitian telah mengonfirmasi bahwa alergi adalah hasil dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Paparan dini terhadap alergen makanan memainkan peran kunci dalam perkembangan alergi pada bayi. Protein yang terkandung dalam ASI bukanlah antigen makanan untuk bayi baru lahir, tetapi ibu dengan riwayat penyakit alergi yang mengonsumsi makanan berprotein tinggi dalam jumlah besar selama menyusui dapat merangsang ibu untuk memproduksi antibodi spesifik yang sesuai, yang diteruskan dari ASI ke anak dan secara langsung memicu alergi makanan pada anak. Oleh karena itu, disarankan agar ibu dengan riwayat alergi mengurangi asupan susu, telur, makanan laut, dan kacang-kacangan selama menyusui untuk mengurangi penularan kompleks antigen-antibodi dan mengurangi tingkat alergi pada anak yang terkena.  Bayi baru lahir sangat rentan terhadap alergi makanan karena struktur dinding usus yang longgar, permeabilitas yang tinggi, dan regulasi kekebalan tubuh yang belum sempurna. Protein susu adalah alergen makanan yang paling umum karena berat molekulnya yang tinggi dan bersifat antigenik. Oleh karena itu, disarankan agar bayi yang berisiko tinggi mengalami alergi sebaiknya memilih susu formula hipoalergenik untuk pencegahan jika tidak dapat disusui.  Bayi dengan risiko alergi tinggi 2,7 kali lebih berisiko terkena alergi bila telur ditambahkan dalam usia 6 bulan dibandingkan bila ditambahkan setelahnya. Disarankan agar bayi dengan riwayat alergi dalam keluarga menunda penambahan telur, makanan laut, kedelai, dan kacang-kacangan, sebaiknya setelah usia 1 tahun.  Paparan bayi terhadap rokok dan bulu binatang juga dapat meningkatkan kejadian penyakit alergi, jadi untuk anak-anak yang berisiko tinggi, paparan rokok dan binatang peliharaan harus dihindari.