Apa yang perlu diketahui tentang aborsi spontan

  1. Apa yang dimaksud dengan aborsi spontan?

  Biasanya mengacu pada kematian embrio dan pengeluaran embrio dan pelengkapnya selama kehamilan, biasanya pengeluaran embrio dan pelengkapnya <1000g dan minggu kehamilan <28 minggu, termasuk apa yang sering disebut sebagai "henti embrio, henti janin dan aborsi spontan".   2. Apa yang dimaksud dengan kebiasaan keguguran?   Apabila keguguran spontan terjadi selama 3 kali atau lebih berturut-turut, maka disebut keguguran berulang atau keguguran kebiasaan.   3.Apa penyebab kebiasaan keguguran?   (1) Kelainan kromosom: Keguguran yang disebabkan oleh kelainan kromosom pada kedua atau salah satu pasangan atau embrio.   (2) Kelainan anatomi saluran reproduksi: keguguran karena kelainan anatomi rahim, termasuk kelainan bawaan dan/atau kelainan anatomi karena penyakit rahim yang didapat.   (3) Kelainan endokrin: terutama mengacu pada keguguran akibat disfungsi endokrin, termasuk fungsi luteal, fungsi tiroid, dll.   (4) Infeksi saluran reproduksi: terutama mengacu pada keguguran akibat infeksi seperti Toxoplasma gondii, cytomegalovirus dan virus herpes simpleks.   (5) Kelainan koagulasi: keguguran yang disebabkan oleh ibu yang berada dalam keadaan hiperkoagulasi.   (6) Faktor kekebalan tubuh.   Jenis autoimun: terutama mengacu pada keguguran akibat antibodi antifosfolipid dan sebenarnya termasuk dalam kategori sindrom antibodi antifosfolipid.   Diagnosis keguguran jenis ini bersifat eksklusi, yaitu penyebab kromosom, anatomi, endokrin, infeksi, koagulasi, dan autoimun disingkirkan, dan tidak ada penyebab keguguran lain yang ditemukan, yang disebut homoimun, dan juga bisa disebut keguguran berulang yang tidak diketahui asalnya.   4. Bagaimana cara memeriksa kebiasaan keguguran.   Menurut penjelasan di atas, pemeriksaan kebiasaan keguguran terutama mencakup kategori utama berikut ini.   (1) Pemeriksaan kromosom kedua pasangan dan, jika tersedia, pemeriksaan kromosom janin yang diaborsi.   (2) Histerosalpingogram atau histeroskopi untuk menentukan bentuk rongga rahim.   (3) Fungsi progesteron, estrogen, laktogen dan tiroid, terutama satu minggu setelah ovulasi.   (4) Pemeriksaan infeksi, terutama infeksi lokal pada saluran reproduksi.   (5) Tes pembekuan darah.   (6) Pemeriksaan rutin, morfologi dan mikrobiologi air mani pasangan pria.   (7) Pemeriksaan imunologi: pemeriksaan autoantibodi, termasuk antibodi anti-kardiolipid, antibodi anti-sperma, profil autoantibodi, dll. (7) Tes imunologi: tes untuk autoantibodi, termasuk antibodi antikardiolipin, antibodi antisperma dan profil autoantibodi.   5. Perawatan   Pengobatan terutama didasarkan pada hasil tes.