Saraf penciuman adalah serabut saraf yang membentang dari epitel penciuman melalui lempeng saringan ke bola penciuman. Kemampuan untuk mencium adalah karakteristik sel penciuman di mukosa hidung. Cedera pada mukosa hidung, bola penciuman, filamen penciuman, atau koneksi sistem saraf pusat dapat memengaruhi indera penciuman. Manifestasi klinis meliputi hiposmia, kehilangan penciuman, tidak adanya penciuman, inversi penciuman, penciuman hantu, dan peningkatan kepekaan terhadap rangsangan penciuman. Deteksi dini dan pengobatan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, di mana metode pemeriksaan klinis utamanya adalah sebagai berikut. 1. Pemeriksaan cairan serebrospinal. 2 . Tes selektif lain yang diperlukan seperti darah rutin, elektrolit darah, glukosa darah, nitrogen urea, dll. 3 . Radiografi bawah, pemeriksaan CT dan MRI tengkorak. 4 . Pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorokan serta pemeriksaan penciuman. 5 . Tes tambahan selektif lainnya yang diperlukan termasuk rontgen dada, EKG, dll. Pasien dengan gangguan indera penciuman biasanya tidak mempengaruhi pekerjaan dan belajar sehari-hari. Pasien dengan gangguan indera penciuman harus diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya dan diobati dengan tepat. Pasien dengan hipersensitivitas penciuman lebih jarang terjadi, tetapi ada beberapa kasus yang dilaporkan di mana pasien sangat sensitif terhadap rangsangan penciuman sehingga menjadi sumber ketidaknyamanan.