Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan bipolar meliputi: 1. Predisposisi genetik: Biologi Orang-orang tertentu tampaknya memiliki predisposisi genetik. Namun, tidak semua orang yang memiliki kecenderungan genetik mengalami gangguan ini. Hal ini menunjukkan bahwa gen bukan satu-satunya penyebab. Beberapa penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa orang dengan gangguan bipolar memiliki perubahan struktur otak. Penelitian lain menemukan pasien dengan ketidakseimbangan neurotransmitter, fungsi tiroid yang tidak normal, ritme sirkadian yang terganggu, dan kadar kortisol yang tinggi. 2. Faktor lingkungan dan psikologis eksternal: Faktor eksternal dikenal sebagai pemicu. Pemicu dapat menyebabkan episode manik atau depresi atau memperburuk gejala yang sudah ada sebelumnya. Banyak orang dengan gangguan bipolar tidak memiliki pemicu yang jelas. (1) Stres: Peristiwa kehidupan yang membuat stres dapat menyebabkan episode bipolar pada orang yang memiliki kecenderungan genetik. Peristiwa kehidupan yang sering terjadi biasanya merupakan peristiwa besar seperti pernikahan, kuliah, kehilangan orang yang dicintai, karier, relokasi, dll., dan tidak baik atau buruk. (2) Penyalahgunaan zat: Penyalahgunaan zat tidak menyebabkan gangguan bipolar, tetapi dapat menyebabkan episode atau memperburuk kondisi. Obat-obatan seperti ekstasi dan amfetamin dapat menyebabkan mania, sedangkan alkohol dan obat penenang dapat memicu depresi. (3) Obat-obatan: Antidepresan dapat memicu mania. Obat-obatan flu, penekan nafsu makan, kafein, glukokortikoid, dan obat tiroid dapat menyebabkan mania. (4) Perubahan musiman: Episode manik dan depresi cenderung bersifat musiman. Episode manik sering terjadi pada musim panas dan episode depresi sering terjadi pada musim gugur, musim dingin, dan musim semi. (5) Kurang tidur: Kurang tidur dapat memicu mania.