Miopi telah menjadi salah satu dari tiga masalah kesehatan masyarakat teratas di sekolah-sekolah kita, dan ini adalah yang paling sulit dikendalikan. Miopi menyebabkan lesi fundus dan bahkan degenerasi makula, yang merupakan penyebab penting penyakit mata yang melumpuhkan dan kebutaan monokular. Mencegah timbulnya dan perkembangan miopi adalah masalah yang membutuhkan upaya gabungan dari kesehatan, masyarakat, sekolah dan keluarga. Penelitian telah menunjukkan bahwa 20 jam kumulatif aktivitas luar ruangan per minggu efektif dalam mengendalikan onset dan perkembangan miopi. Perhatikan bahwa penekanan di sini adalah pada luar ruangan, bukan aktivitas. Mekanisme kegiatan di luar ruangan untuk mengontrol miopia: 1. Di lingkungan luar ruangan, sebagian besar objek berada pada jarak yang jauh dan mata manusia tidak perlu menyesuaikan diri, sehingga tidak ada jeda penyesuaian. Adjustment lag adalah salah satu mekanisme yang menghasilkan miopi. 2. Di lingkungan luar ruangan, ada cahaya yang cukup, pupil menyempit, kedalaman bidang meningkat, dan retina memiliki kualitas pencitraan yang baik, dan kualitas pencitraan retina yang baik dapat menunda pendalaman miopia. 3, aksi sinar matahari, jaringan retina menghasilkan berbagai neurotransmiter, seperti dopamin, vitamin D, dll. Zat-zat ini dianggap melindungi perkembangan miopia pada mata. 4. Di lingkungan luar ruangan, sebagian besar objek berada dalam defokus rabun pada mata, dan defokus rabun dianggap menghambat pemanjangan mata. Berdasarkan penelitian ini, para ahli merekomendasikan bahwa: 1. para siswa harus didorong untuk pergi ke luar ruangan selama jam istirahat sekolah; 2. kelas pendidikan jasmani harus secara rutin diadakan di luar ruangan; dan 3. keseimbangan antara kebiasaan kebersihan dan kebiasaan belajar. Siswa harus berpartisipasi dalam kegiatan aktif di luar ruangan setelah sekolah untuk memastikan bahwa mereka memiliki satu jam aktivitas luar ruangan setelah sekolah.