Tes yang diperlukan untuk infertilitas

Langkah pertama adalah melakukan anamnesis untuk mengetahui apakah ada penyakit yang memengaruhi kesuburan, seperti gondongan pasca-pubertas yang dikombinasikan dengan orkitis, gonore, trauma pada skrotum, dan pembedahan pada alat kelamin luar dan area selangkangan. Pemeriksaan fisik menyeluruh kemudian dilakukan, termasuk status perkembangan, gizi dan mental, tetapi dengan penekanan pada karakteristik seksual sekunder dan organ reproduksi, seperti kelenjar laring, jenggot, distribusi rambut kemaluan dan adanya feminisasi payudara, serta penis, uretra, prostat, testis, epididimis, dan korda spermatika. Tes tambahan yang akan dilakukan meliputi: ① Analisis air mani, analisis morfologi sperma, biokimia plasma mani: tes ini membantu untuk memahami kesuburan pria dan merupakan tes wajib untuk infertilitas. ②Pemeriksaan cairan prostat: salah satu tes yang diperlukan jika air mani tidak cair. ③Tes CT dan UU-DNA untuk mengetahui adanya uretritis non-gonokokal. ④Pemeriksaan endokrin (hormon seks enam): untuk mengetahui fungsi testis dan fungsi spermatogenik testis. Pemeriksaan ultrasonografi pada skrotum untuk memastikan adanya varikokel. (6) Pemeriksaan imunologi (antibodi anti-sperma): untuk menyingkirkan infertilitas yang disebabkan oleh imunologi. (vii) Biopsi testis: untuk pasien dengan azoospermia atau oligospermia. (viii) Kariotipe kromosom: untuk kelainan bentuk organ genital eksternal, displasia testis, dan azoospermia yang tidak diketahui asalnya. (ix) Fragmentasi DNA sperma: umumnya digunakan sebagai salah satu tes untuk aborsi yang biasa dilakukan.