Benar-benar “sakit” atau hipokondriak?

Hipokondriasis adalah jenis gangguan somatoform yang keluhan utamanya adalah berbagai ketidaknyamanan somatik, dan meskipun telah dilakukan konsultasi medis secara terus-menerus dan berkali-kali serta berbagai tes medis yang mengkonfirmasi tidak adanya kerusakan yang berarti atau adanya mekanisme patofisiologis yang jelas, kecurigaan pasien tidak dapat dihilangkan. Ciri-ciri 1. Terdapat banyak gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara medis, atau sensasi atau pengalaman ketidaknyamanan ini jauh lebih parah daripada yang dapat disebabkan oleh perubahan penyakit yang sudah ada sebelumnya (hal ini harus ditentukan oleh riwayat medis dan pemeriksaan fisik pasien). 2. Kekhawatiran yang berlebihan terhadap penyakit fisik dan mengkhawatirkan perubahan kecil pada kondisi fisik. 3, Berbagai tes medis negatif dan tidak ada bukti klinis dari tes positif yang sesuai dengan gejala somatik yang mengganggu pasien. 4. Riwayat sering berkunjung ke dokter meskipun pemeriksaan berulang kali tidak menunjukkan patologi organik. 5. Pengabaian yang terus-menerus terhadap nasihat dokter bahwa tidak ada penyakit atau kelainan fisik yang serius. Pasien masih tetap meyakini bahwa ada penyakit serius dan menunjukkan gejala-gejala. Kedua kondisi ini harus ada untuk mencurigai adanya gangguan hipokondriak. Gejala klinis: Gejala yang paling umum dari gangguan somatisasi dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori berikut ini: 1. Nyeri: misalnya nyeri dengan berbagai macam sifat di kepala, leher, perut, punggung, persendian, tungkai, dada, dubur, dan lain-lain. Nyeri ini tidak menetap pada satu tempat dan dapat terjadi saat menstruasi, hubungan seksual, atau buang air kecil. 2. Gejala gastrointestinal: seperti bersendawa, refluks asam lambung, mual, muntah, sakit perut, kembung, diare, atau makanan tertentu yang menyebabkan ketidaknyamanan tertentu. 3. Gejala genitourinari: seperti tumpukan urin yang terperangkap, retensi urin, atau sering buang air kecil, ketidaknyamanan di dalam atau di sekitar alat kelamin. (4) Gejala neurologis semu: kelumpuhan atau kelemahan anggota tubuh, disfagia atau sensasi obstruktif pada faring, kehilangan nada, retensi urin, tidak adanya sensasi sentuhan atau rasa sakit, diplopia, kebutaan, ketulian, ataksia berkedut, kelumpuhan atau kelemahan anggota tubuh, disfagia atau sensasi obstruktif pada faring, kehilangan nada, tidak adanya sensasi sentuhan atau rasa sakit, diplopia, kebutaan, ketulian, sensasi kulit yang tidak biasa seperti gatal-gatal, rasa panas, kesemutan, dan gejala konversi lainnya. (5) Gejala pernapasan dan peredaran darah seperti sesak napas dan nyeri dada. Penanganan: 1. Penanganan umum Biasanya pasien sebelumnya telah menjalani pemeriksaan medis menyeluruh dengan dokter yang merawatnya dan penyakit somatik yang mendasarinya dapat disingkirkan. Penanganan terbaik untuk keluhan somatik adalah agar pasien melakukan kontak secara teratur dengan dokter yang merawatnya. Tujuannya adalah untuk meringankan pasien dari kecemasan dan depresi yang menyertainya, dengan menggunakan benzodiazepin, antidepresan trisiklik, SSRI, dan analgesik atau obat penenang simtomatik. Psikoterapi adalah bentuk pengobatan utama. Pasien sering menolak untuk menerima bahwa esensi dari gejala mereka terletak pada masalah psikologis, sehingga psikoterapi yang bertujuan untuk meningkatkan kognisi dapat mengeksplorasi dan menyelesaikan konflik internal yang menyebabkan gejala. Penyesuaian diri dengan lingkungan tempat seseorang berada sangat penting untuk memperbaiki perilaku penyakit dan mengembangkan perilaku yang sehat. Kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dan keluarga ditingkatkan, dan upaya-upaya dilakukan untuk mempelajari pengaturan diri dan melepaskan diri dari ketergantungan sedini mungkin. Sikap yang benar dari pasangan dan keluarga serta teman-teman terhadap pasien: baik untuk menunjukkan pemahaman dan simpati penuh terhadap penyakit dan penderitaan pasien dan untuk mengubah sikap negatif, acuh tak acuh dan diskriminatif, dan untuk menghindari memainkan penyakit dan penderitaan secara berlebihan dan tidak didominasi olehnya untuk membangun suasana keluarga yang positif, penuh perhatian, dan harmonis.