Terdapat prevalensi miopi yang tinggi dalam masyarakat kita saat ini, dengan siswa yang mengenakan kacamata dari sekolah dasar hingga universitas, dan bahkan anak-anak di taman kanak-kanak. Secara genetis, sebagian miopi bersifat turun-temurun. Yang lainnya tidak. Miopia dibagi menjadi miopia patologis, miopia yang didapat dan miopia fisiologis. Miopia patologis terutama disebabkan oleh faktor genetik dan umumnya berkekuatan tinggi. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa miopia bersifat autosomal resesif, sehingga ada kemungkinan miopia dapat diturunkan ke generasi berikutnya jika kedua orang tua memiliki kondisi ini, tetapi tidak sepenuhnya diwariskan dan pasti akan diturunkan ke generasi berikutnya. Sebaliknya, miopi yang didapat dan miopi fisiologis, yang disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup yang buruk seperti sering berselancar di internet, membaca ponsel dan layar elektronik lainnya, serta masalah dengan duduk dan pencahayaan, tidak diwariskan secara genetik, tetapi dalam arti tertentu, miopi ini “diwariskan dari kebiasaan gaya hidup yang buruk”. Contohnya, jika seorang anak terpengaruh oleh kebiasaan buruk dalam keluarga dan menjadi rabun jauh, hal ini juga bisa digambarkan sebagai bentuk “hereditas”. Singkatnya, miopi patologis bersifat turun-temurun, tetapi bersifat resesif autosomal, jadi belum tentu sepenuhnya turun-temurun, ini adalah masalah probabilitas.