Atrofi otot dapat menyebabkan banyak ketidaknyamanan pada kehidupan manusia, yang intinya adalah penipisan atau bahkan hilangnya serat otot. Penyebab atrofi otot secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori: 1. atrofi otot neurogenik, karena gangguan neurologis yang menyebabkan malnutrisi atau gangguan transmisi sinyal pada otot, sehingga mengakibatkan kelemahan otot. 2, atrofi otot miogenik, karena otot itu sendiri memiliki penyakit, sehingga terjadi atrofi otot. Biasanya atrofi otot neurogenik lebih umum terjadi. Atrofi otot sering dimanifestasikan sebagai kelemahan otot dan pengurangan otot. Pada kasus yang ringan, pasien mengalami kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya dan sering terjatuh, disertai rasa nyeri dan kekakuan otot. Distrofi otot dapat meluas ke tulang, menyebabkan osteoporosis. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan pada kehidupan sehari-hari pasien. Pada kasus yang parah, ada kemungkinan kelumpuhan total atau bahkan mengancam jiwa. Namun demikian, sebagian besar otot yang terbuang dapat dikembalikan fungsinya, jadi atrofi otot harus ditangani secara serius dan diobati segera setelah terdeteksi. Dalam praktik klinis, elektromiografi (EMG) atau kecepatan konduksi saraf sering digunakan untuk diagnosis penyakit secara lokal dan kualitatif. Hasilnya luar biasa. Jadi atrofi otot pada dasarnya adalah pengurangan otot, tetapi pengurangan otot belum tentu atrofi otot, mungkin hanya kurangnya gerakan. Disarankan agar orang menganggap serius gejala kelemahan otot dan mencari pertolongan medis sesegera mungkin.