Hormon malaikat atau iblis?

  Tidak dapat disangkal bahwa tidak ada yang dapat menggantikan nilai terapeutik hormon untuk beberapa penyakit. Namun, penggunaan hormon dosis besar dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai efek samping pada tubuh manusia, seperti hiperglikemia, hiperlipidemia, osteoporosis, gangguan elektrolit, hipoproteinemia, dan glaukoma, yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak serta menyebabkan penyembuhan luka yang buruk. Untuk sementara waktu, banyak orang telah membicarakan hormon sebagai “setan”.  Faktanya, hormon hanyalah alat untuk mengobati penyakit. Memanfaatkan hormon dengan baik dapat bermanfaat bagi pasien, sementara penyalahgunaan dan penyalahgunaan dapat membahayakan. Oleh karena itu, cara menggunakan hormon dengan baik adalah sebuah seni. Untuk membuat penggunaan hormon lebih terstandardisasi dan untuk mengurangi reaksi yang merugikan, para ahli reumatologi, melalui pengamatan dan praktik klinis jangka panjang, telah mengajukan “Rekomendasi Penerapan Terapi Glukokortikoid Sistemik”, yang terutama berisi konten berikut ini.  Pahami dengan seksama indikasi hormon Hormon bukanlah obat mujarab dan memerlukan pemahaman yang ketat tentang indikasi. Karena pengetahuan medis pasien tidak memadai, pemahaman mereka tentang obat sering kali berbeda dengan dokter mereka, dan jika mereka gagal untuk bekerja sama secara aktif, tingkat pengobatan non-standar meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, pasien harus berkomunikasi sepenuhnya dengan dokter mereka dan meminum obat sesuai resep. Dianjurkan untuk membuat “kartu pengobatan”, yang menunjukkan tanggal dimulainya terapi hormon, dosis awal, dan metode pengurangan dan pemeliharaan dosis.  Penggunaan hormon yang benar adalah kunci penggunaan terapi hormon yang aman. Penggunaan hormon harus bersifat individual, dan pilihan bentuk hormon, dosis, cara pemberian, serta pengobatan harus bervariasi sesuai dengan penyakit dan pasien, dan tidak boleh disamaratakan. Waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan adalah sedini mungkin, sebelum jam 8 pagi, bertepatan dengan puncak sekresi fisiologis. Jika memungkinkan, pilihlah dosis kecil, pengobatan singkat dan bentuk sediaan dengan potensi pendek hingga sedang untuk mengurangi efek samping.  Evaluasi dan pencegahan reaksi hormon yang merugikan harus dipertimbangkan sepenuhnya sebelum terapi hormon dan dicegah. Tekanan darah, glukosa darah, lipid darah dan kepadatan tulang harus dipantau secara ketat selama pengobatan, dan tindakan intervensi dini seperti suplementasi kalsium dan vitamin D harus dilakukan. Hindari terapi hormon pada pasien dengan glaukoma yang sudah ada.