Rehabilitasi gangguan sensorik

  Fungsi sensorik dan fungsi motorik sangat erat kaitannya, dan adanya kehilangan sensorik, tumpul, dan hipersensitivitas dapat secara serius memengaruhi fungsi motorik.  (i) Prinsip-prinsip dasar pelatihan sensorik 1. Memperbaiki ketegangan otot yang tidak normal untuk menormalkannya; menghambat postur tubuh yang tidak normal dan pola gerakan yang abnormal.  2. Ketika menerapkan rangsangan sensorik, penting untuk mencegah kekejangan yang disebabkan oleh rangsangan tersebut agar tidak meningkat.  3. Kerja sama dari pasien harus diperoleh untuk mendapatkan efek terapi terbaik.  4. Terapis dan pasien harus sepenuhnya siap menghadapi kenyataan bahwa pemulihan sensasi tidak mungkin terjadi dalam waktu singkat.  5 . Gerakan yang sama atau rangsangan yang sama harus diulang beberapa kali, dan harus berhati-hati untuk tidak terlalu sering mengganti alat latihan.  6, sesuai dengan tingkat gangguan sensorik pasien untuk memilih metode pelatihan dan alat pelatihan yang sesuai, pelatihan harus bertahap, dari yang mudah ke yang sulit, dari yang sederhana ke yang kompleks.  Misalnya, letakkan sebuah bola bundar dan sebuah balok kayu berbentuk persegi di dalam kotak kayu dan instruksikan pasien untuk menilai bola dan balok kayu tersebut; setelah penilaian pasien lebih akurat, letakkan tiga bola bundar atau balok kayu berbentuk persegi berukuran besar, sedang, dan kecil di dalam kotak tersebut, lalu instruksikan pasien untuk menyentuhnya dengan tangan yang sakit untuk menilai perbedaannya.  Pasien dengan gangguan sensorik tidak hanya memiliki dampak yang lebih besar pada fungsi motorik, tetapi kehilangan atau tumpulnya sensasi juga dapat menyebabkan luka bakar, trauma, dan infeksi. Terapis harus membantu pasien untuk mengembangkan kebiasaan menggunakan substitusi visual dalam perawatan dan kehidupan sehari-hari untuk mencegah cedera yang tidak disengaja.  (ii) Pelatihan dengan gangguan sensorik yang signifikan Selama masa pemulihan hemiplegia, pelatihan fungsi sensorik harus ditambahkan pada waktu yang sama.  Ketika pasien menggenggam kayu, stimulasi sensorik dan keterlibatan visual dari berbagai bahan di pinggiran pasien dapat meningkatkan kemampuan persepsi sistem saraf pusat.  2, latihan beban ekstremitas atas yang terpengaruh adalah salah satu metode latihan untuk meningkatkan fungsi motorik ekstremitas atas. Ketika menahan beban pada tungkai atas yang terkena, benda-benda dari bahan yang berbeda dapat diletakkan di bawah permukaan penyangga, seperti papan kayu, pelat logam, kain katun, dan beludru, yang selalu memberikan berbagai rangsangan sensorik pada telapak tangan.  (iii) Latihan sensorik-motorik untuk gangguan sensorik dalam Gangguan sensorik dalam terutama tercermin dalam gangguan posisi dan kinestetik, dan keduanya harus dilatih secara bersamaan. Awalnya, terapis memandu pasien untuk melakukan dan mengalami gerakan yang benar melalui gerakan pasif, kemudian menginstruksikan pasien untuk menggunakan sisi yang sehat untuk memandu sisi yang sakit melalui gerakan ini, dan selanjutnya, secara tidak langsung memandu anggota tubuh bagian atas yang sakit untuk melakukan gerakan yang benar dengan mengangkat benda yang lebih besar dengan kedua tangan.  Latihan menulis juga merupakan bagian yang efektif dalam pelatihan ini. Pada awalnya, lebih mudah untuk menggambar garis sesuai kebutuhan dan menggambar kurva yang membulat daripada garis lurus. Setelah pasien dapat menggunakan pena dengan lebih baik, kertas garis dapat digunakan dan pasien dapat diinstruksikan untuk menulis kata-kata dalam kotak.