Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar penelitian genetik telah menunjukkan bahwa epilepsi memang merupakan kelainan genetik, termasuk epilepsi primer dan sekunder, dan bahwa genetika adalah penyebab internal utama epilepsi, sementara semua aspek kerusakan otak dari onset embrionik hingga pra-onset adalah penyebab eksternal utama epilepsi. Studi pada anak kembar dengan epilepsi telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan epilepsi secara genetik rentan terhadap epilepsi. Semakin dekat hubungan darah, semakin tinggi prevalensinya. Informasi di atas menunjukkan bahwa epilepsi memiliki kecenderungan genetik, tetapi ini hanya menunjukkan bahwa orang dengan kualitas genetik memiliki ambang kejang yang rendah, kerentanan yang tinggi, dan rentan terhadap kejang ketika menghadapi faktor lingkungan tertentu, sementara apakah onsetnya ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Pada kenyataannya, kejang yang disebabkan oleh faktor genetik hanya sebagian kecil dari semua epilepsi. Oleh karena itu, pasien tidak perlu terlalu khawatir tentang epilepsi dan faktor genetik. Epilepsi adalah penyakit kronis yang dapat berkepanjangan selama bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidup, jika tidak diobati dengan segera dan efektif. Hasil pengobatan dini lebih baik daripada pengobatan yang terlambat, dan semakin muda usia onset, semakin buruk prognosisnya, terutama bagi mereka yang mulai dalam usia 1 tahun. Selain itu, prognosis terkait erat dengan frekuensi dan durasi kejang. Secara umum, semakin tinggi frekuensi dan semakin lama durasi kejang, semakin buruk prognosisnya. Hal ini juga terkait dengan jenis kejang dan penyebabnya.