Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peradangan saraf, stres oksidatif, dan faktor neurotropik merupakan mediator patofisiologi gangguan mood. Namun, saat ini hanya sedikit yang diketahui tentang rangkaian peristiwa biologis yang mendasari gangguan kognitif pada fase akut dan stabil gangguan bipolar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai hubungan antara gangguan kognitif yang mendasari dan biomarker inflamasi, stres oksidatif, dan aktivitas biologis faktor neurotropik. Menanggapi hal ini, Isabelle E. Bauer, PhD, dari University of Texas, melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa kadar sitokin inflamasi perifer yang tinggi, stres oksidatif, dan berkurangnya kadar BDNF (faktor neurotropik yang diturunkan dari otak) dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih rendah. Temuan ini baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Psychiatric Research. Makalah yang terkait dengan penanda inflamasi dan fungsi kognitif pada gangguan bipolar hingga Desember 2013 dicari menggunakan database Scopus, Pubmed, dan Ovid Medline. Istilah pencarian termasuk gangguan bipolar, depresi, mania, psikosis, respons inflamasi, kognisi dan faktor neurotropik. Sebanyak 10 makalah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dicari. Temuan menunjukkan bahwa kadar sitokin inflamasi perifer yang tinggi, stres oksidatif, dan penurunan kadar BDNF (faktor neurotropik yang diturunkan dari otak) dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih rendah. Pada gilirannya, BDNF val66met merupakan faktor kerentanan potensial untuk gangguan kognitif pada gangguan bipolar. Dari penelitian ini, data saat ini memberikan bukti awal untuk hubungan antara penurunan kognitif pada gangguan bipolar dan inflamasi saraf dan efek pelindung saraf. Penanda inflamasi spesifik dan keragaman gen respons inflamasi dapat berkontribusi pada intervensi terapeutik untuk gangguan bipolar.