Tes tiroid yang umum dilakukan meliputi tes darah, ultrasonografi tiroid, dan pemeriksaan resonansi magnetik. Hasil tes ini dapat digunakan untuk menentukan apakah pasien menderita hipertiroidisme atau hipotiroidisme. 2. Pemeriksaan ultrasonografi kelenjar tiroid dapat digunakan untuk memeriksa ukuran kelenjar tiroid dan apakah ada lesi yang menduduki. Alat ini juga dapat memeriksa ekogenisitas kelenjar tiroid, apakah ekogenisitasnya homogen, aliran darah di kelenjar tiroid dan apakah distribusi vaskularnya alami. Pemeriksaan resonansi magnetik (MRI) dapat dilakukan untuk memeriksa tumor jinak dan ganas, lesi kistik pada tiroid, pembesaran kelenjar getah bening dan pembesaran tiroid. Pemeriksaan patologis juga dapat dilakukan. Pemeriksaan patologis sebagian besar digunakan untuk mereka yang memiliki manifestasi klinis atipikal, titer antibodi rendah atau hasil negatif, sehingga sitologi aspirasi jarum halus atau biopsi jaringan dapat dilakukan untuk memastikan penyebabnya. 5. Pencitraan nuklir dan penyerapan yodium juga dapat dilakukan untuk menentukan kelainan kelenjar tiroid. Deteksi dini penyakit tiroid dapat mengarah pada pengobatan dan pencegahan dini.