Usus siapa yang rentan terhadap “depresi”?

Siapa penyebab utama “depresi” usus? Pertama, faktor mental, seperti kebisingan lingkungan, tekanan kerja, beban keuangan yang berat, pengangguran, kematian kerabat, gangguan hubungan interpersonal dan perselisihan keluarga. Neurotisisme, agitasi, kegelisahan, kecemasan dan depresi adalah ciri-ciri dari pasien-pasien ini. Lebih dari separuh pasien disertai dengan fobia, terutama fobia kanker. Sekitar 33 persen pasien memiliki kecenderungan genetik dalam keluarga. Selain itu, pasien tidak toleran terhadap satu atau beberapa jenis makanan, yang dapat memicu atau memperparah gejala setelah makan. Contohnya adalah buah-buahan asam, rempah-rempah, alkohol, cabai, dan kopi kental. Fungsi otot polos saluran cerna yang berubah akibat penyalahgunaan zat juga dapat memicu penyakit ini. Pasien harus menjauhkan diri dari makanan berlemak tinggi, alkohol dan kafein dalam diet mereka. Makan makanan yang seimbang dan teratur yang kaya akan serat dan pati dapat mengurangi timbulnya gejala. Sekarang setelah kita memiliki pemahaman umum tentang Irritable Bowel Syndrome, diagnosis wanita yang menderita diare ini menjadi jelas. Masuk akal bahwa sifatnya yang tertutup dan penuh kecurigaan serta kemalangan yang dideritanya dalam hidupnya akan menyebabkan depresi usus. Disarankan agar pasien dengan sakit perut kronis dan diare berkonsultasi dengan ahli gastroenterologi dan psikolog klinis ketika penyebab penyakit mereka tidak terdeteksi oleh kolonoskopi, untuk membuat diagnosis dan pengobatan yang masuk akal sedini mungkin. Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS): 1. 70% pasien memiliki gejala ringan atau sesekali, dan dapat mempertahankan kehidupan normal dan bekerja. 2. 25% berukuran sedang dengan gejala klinis yang khas, timbulnya siklik, sering dengan faktor pemicu dan beban psikologis yang berat, nyeri perut bisa sampai beberapa tahun, nyeri perut bersifat spasmodik, dengan rasa sakit yang parah sementara. Diare atau sembelit, tinja seperti pasta atau encer, dan terdapat banyak lendir, beberapa kali sehari, sering di pagi hari atau malam hari, pasien juga dapat disertai dengan perut kembung, gangguan pencernaan, insomnia, jantung berdebar-debar, tangan dan kaki berkeringat, demam kepala dan wajah dan gejala lainnya. 3, 5 % berat Variasi ringan dan ringan dari gejala-gejala di atas, tetapi semuanya memiliki rasa sakit yang parah dan sering yang tidak berhubungan dengan diet, aktivitas atau perubahan fisiologis, disertai dengan gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, dan somatisasi gejala. Usus disebut sebagai ‘otak kedua’: pleksus enterik tersebar di seluruh dinding usus dari mukosa ke membran plasma dan terhubung ke sistem saraf pusat (otak) melalui serabut saraf dan mediator saraf, yang di satu sisi memungkinkan informasi sensorik mencapai otak, dan di sisi lain memungkinkan aktivitas usus diatur secara sentral. Dalam beberapa tahun terakhir, telah dikonfirmasi bahwa neuromediator yang terkait dengan pleksus enterik: 5-hidroksitriptamin, zat P, endorfin, dll. juga ditemukan di sistem saraf pusat.