Kabut asap pertama kali ditemukan dan dinamai oleh orang Jepang pada tahun 1950-an dan 1960-an, dan sejak itu, komunitas medis terus meneliti dan mengeksplorasi pengobatan kabut asap. Hingga saat ini, penanganan kabut asap relatif matang dan ada konsensus dalam komunitas akademis. Konsensus yang ada adalah, bahwa pengobatan konservatif untuk smouldering sebagian besar tidak efektif dan bahwa pembedahan diperlukan untuk pemulihan. Ketika berbicara tentang pembedahan, pertanyaan pertama yang ada di benak banyak pasien adalah, apakah akan ada efek samping setelah pembedahan untuk smouldering. Efek setelah pembedahan sering kali terkait dengan jenis perawatan bedah yang dipilih, karena perawatan bedah yang tidak tepat mungkin tidak efektif dan dapat meninggalkan beberapa gejala setelah pembedahan. Inilah sebabnya mengapa penting bagi pasien untuk menerima perawatan profesional di rumah sakit yang tepat. Pilihan perawatan bedah untuk smouldering juga menjadi perhatian utama bagi pasien dan keluarganya. Saat ini, ada tiga jenis utama perawatan bedah untuk penyakit smouldering: operasi bypass langsung, operasi penambalan, dan operasi bypass gabungan. Ada juga pasien yang telah menderita kerusakan neurologis yang tidak dapat dipulihkan selama penyakitnya akibat infark serebral atau pendarahan otak, dan mungkin saja ada gejala klinis yang tidak dapat dipulihkan yang menetap setelah pembedahan, tetapi hal ini tidak disebabkan oleh pembedahan; dan pembedahan pada umumnya tidak menghasilkan gejala sisa, dan sebagian besar pasien dapat memperbaiki beberapa gejala klinis mereka setelah perawatan bedah yang benar dan teratur.