Dapatkah kejang terjadi selama tidur?

  Epilepsi adalah penyakit kronis di mana pelepasan neuron abnormal yang tiba-tiba di otak menyebabkan disfungsi otak sementara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa ada sekitar 50 juta penderita epilepsi di seluruh dunia, dan sekitar 9 juta di Tiongkok, di antaranya 6 juta pasien masih mengalami kejang setiap tahun, dan 400.000 kasus baru terjadi setiap tahun, dan hampir 60% pasien tidak menerima pengobatan antiepilepsi secara teratur. Epilepsi, kondisi neurologis umum yang kuno, merupakan bahaya kesehatan yang serius dan mempengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari pasien dan keluarga mereka.  Saat ini, setidaknya 25% kejang pada populasi epilepsi berhubungan dengan tidur, dan epilepsi yang berhubungan dengan tidur didefinisikan sebagai kejang yang terjadi selama tidur atau lebih mungkin terjadi selama tidur. Terlepas dari penyebab epilepsi, siklus tidur-bangun yang tidak teratur, gangguan tidur seperti kurang tidur, sleep apnea, dan bahkan penggunaan obat antiepilepsi yang tidak tepat dapat menjadi faktor penyebab epilepsi terkait tidur. Jadi bagaimana kita bisa mengetahui kejang saat tidur dalam kasus ini? Dan bagaimana kejang itu sendiri atau setelah obat antiepilepsi oral mempengaruhi struktur tidur kita?  Polisomnografi dapat merekam EEG, EMG, EKG, respirasi, dan oksigenasi end-arteri saat merekam struktur tidur pasien epilepsi di malam hari. Tes ini dapat membantu kita untuk memecahkan masalah di atas dan memberi kita pemahaman yang lebih komprehensif tentang serangkaian perubahan fisiologis selama kejang selama tidur dan efek pada struktur tidur kita sendiri setelah pengobatan jangka panjang.