Orang yang sukses cenderung bergantung pada materi

Menurut logika filsuf Schopenhauer, semakin tinggi tingkat kecerdasan, semakin tinggi pula tingkat penderitaan; semakin banyak yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kepekaannya terhadap penderitaan. Namun, cara yang paling umum untuk menghilangkan penderitaan adalah melalui ketergantungan materi. Hampir semua pahlawan di masa lalu memiliki ketergantungan, terutama pada tembakau, seperti Churchill dan Mao, dan Lin Biao, yang terus-menerus mengkonsumsi biji melon dalam film-film domestik dari tiga pertempuran besar. Ketergantungan pada zat adalah mekanisme pertahanan yang kuat, dan menurut psikoanalis Warburg, mekanisme pertahanan pengendali ini terutama digunakan untuk menghilang ke dalam tubuh sehingga dunia luar dapat sepenuhnya diatasi. Setelah kita mendapatkan manfaat secara mental dan psikologis melalui ketergantungan kita pada suatu zat, kita memperkuat ketergantungan kita pada zat tersebut. Waktu telah berubah, dari ketergantungan pada tembakau dan melon menjadi kecanduan internet. Kecanduan jelas lebih ekstrem daripada ketergantungan, dan kecanduan narkoba adalah bentuk ketergantungan mental dan fisik yang paling ekstrem. Namun, tidak ada ketergantungan zat yang dapat diatasi dengan pengetahuan ilmiah saja, misalnya ketergantungan pada tembakau dan alkohol. Lihat saja berapa banyak perokok dan pemabuk yang ada di sekitar kita. Banyak sekali buku panduan berhenti merokok yang “super-ilmiah”, yang pasti dimulai dengan memberi tahu orang-orang betapa buruknya merokok, dan mereka membuat kesalahan dengan berpikir bahwa orang akan berhenti karena takut mati. Faktanya, dengan melihat dimensi kerugian dan keuntungan, ada situasi di mana beberapa orang lebih mementingkan keuntungan, atau kepuasan instan, daripada bagian yang telah mereka hilangkan.