Diagnosis Nyeri Perut Emosional

  1. Riwayat Informasi harus diperoleh dari episode pertama rasa sakit, frekuensi, sifat dan lokasi rasa sakit; hubungan dengan diet, buang air besar dan ekskresi; dan hasil dari berbagai perawatan (misalnya, perubahan posisi, perawatan di rumah, perawatan dengan obat bebas atau obat yang diresepkan). Informasi yang diperoleh dari orang tua (atau orang lain yang merawat anak) juga bermanfaat. Pendapat mereka yang berbeda tentang timbulnya nyeri perut dan bagaimana hal itu terjadi dapat membantu mengamati dampak situasi keluarga pada anak dan dapat membantu memberikan pendekatan untuk pengelolaan nyeri perut yang memuaskan orang tua juga. Peran potensial keterlibatan orang tua dalam onset, persistensi, dan resolusi nyeri ditekankan.  Riwayat keluarga sering kali mencakup pasien yang mengalami ketidaknyamanan atau nyeri somatik kronis, tukak lambung, sakit kepala, ‘gugup’ atau depresi. Riwayat keluarga juga harus mencakup anggota keluarga, khususnya orang tua, yang pernah menderita penyakit terkait atau masalah serupa pada usia yang sama.  2. Gejala Nyeri perut tidak memiliki lokasi yang tetap dan tidak ada titik tekanan yang jelas, dan dapat berlangsung dari beberapa menit hingga puluhan menit, dan bisa ringan atau berat. Hal ini sering disertai dengan gejala-gejala seperti kegugupan, insomnia dan sakit kepala, dan sebagian besar terjadi pada bayi yang gugup dan anak kecil.  3. Psikososial Ciri-ciri psikososial dari nyeri perut emosional termasuk ketidakdewasaan, ketergantungan yang berlebihan pada orang tua, ketakutan atau depresi, ketakutan, kegugupan dan kerewelan yang berlebihan. Seringkali orang tua memperlakukan anak-anak ini sebagai istimewa karena status khusus mereka dalam keluarga (misalnya, anak tunggal, anak bungsu dari saudara kandung, hanya anak laki-laki atau perempuan di antara banyak saudara kandung) atau karena masalah medis (kolik, kesulitan makan). Orang tua sering kali terlalu peduli, menyayangi, patuh, dan sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan anak. Perhatian harus diberikan pada pemicu yang mungkin terjadi (misalnya penyakit, perselisihan keluarga, perpisahan atau kematian orang tua, stres yang disebabkan oleh sekolah); bukti manfaat yang diperoleh dari episode pertama (apa yang dihindari anak karena rasa sakitnya) atau dari episode kedua (keuntungan psikososial karena penyakitnya); dan ciri-ciri kepribadian anak. Catatan sekolah dapat mengungkapkan dampak rasa sakit pada aktivitas sehari-hari di kelas.