Apa yang harus dilakukan terhadap disfagia pasca operasi setelah okupasi foramen ovale jugularis?

Struktur daerah foramen vena jugularis sangat kompleks, dengan banyak pembuluh darah dan saraf penting yang melewatinya, seperti vena jugularis, saraf glossofaring, saraf vagus, saraf parasimpatis, dll. Saraf-saraf di atas juga disebut saraf kranial posterior. Saraf-saraf di atas juga dikenal sebagai kelompok saraf kranial posterior, yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan sensasi dan pergerakan faring. Oleh karena itu, lesi di daerah foramen vena jugularis sering kali disertai dengan disfungsi saraf-saraf tersebut atau muncul gejala yang sesuai setelah reseksi tumor, seperti gangguan sensorik pada langit-langit lunak dan faring, hilangnya sensasi pengecapan pada 1/3 bagian belakang lidah, kelumpuhan pita suara dan langit-langit lunak, munculnya suara serak, serta hilangnya refleks faring pada sisi yang sakit. Menelan adalah serangkaian tindakan di mana makanan diangkut dari mulut ke perut. Diskinesia lidah dan kelumpuhan langit-langit lunak mempengaruhi kontraksi otot-otot yang terlibat dalam tindakan menelan, mengakibatkan kegagalan tekanan intraoral untuk naik secara memadai, dan kurangnya kekuatan yang cukup untuk pergerakan makanan dari rongga mulut melalui faring ke pintu masuk kerongkongan, yang menyebabkan retensi massa esofagus. Pada saat yang sama, refleks mukosa pada laringofaring tidak ada atau berkurang, yang dapat dengan mudah menyebabkan kesalahan menelan. Perubahan ini dapat menyebabkan kesulitan menelan dan makan, yang pada gilirannya menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi, sehingga membuat kualitas hidup menjadi lebih rendah secara signifikan. Proses kompensasi dari disfungsi neurologis cukup lambat, dan memberikan latihan fungsional yang benar setelah operasi membantu mempercepat proses kompensasi. Sejak zaman kuno, Tiongkok telah mementingkan pengobatan diet, karena disfagia yang disebabkan oleh penyakit merupakan ancaman besar bagi pemeliharaan status gizi tubuh. Pada tahun 2002, para ahli dari American Dietetic Association merumuskan program diet untuk disfagia setelah melalui penelitian dan perangkuman yang panjang, dengan membagi makanan menjadi makanan padat dan makanan cair sesuai dengan karakteristik makanan. Pasien dapat memilih makanan dengan benar sesuai dengan kondisi masing-masing, sehingga dapat memulihkan kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup dengan diet seimbang.