Dalam keluarga dengan banyak anak, putra atau putri sulung sering kali menunjukkan karakteristik psikologis tertentu, seperti terlihat lebih berpengetahuan, patuh, stabil, jujur, terlalu teliti, kaku, tidak fleksibel, keras kepala, bahkan tidak patuh, dan pendiam, sementara anak-anak lain jauh lebih aktif, atau bahkan nakal, dan terlihat kurang berpengetahuan dibandingkan dengan anak sulung, tetapi mereka cenderung memiliki lebih sedikit masalah psikologis yang serius. Sebaliknya, anak tertua yang berperilaku baik dan stabil saat kecil akan tumbuh dengan lebih banyak masalah psikologis seperti depresi, obsesi, dan paranoid dibandingkan anak lainnya. Banyak orang tua percaya bahwa ini adalah masalah sifat anak mereka, dan karena mudah untuk mengubah sifat anak, mereka harus menyerahkannya pada takdir. Psikolog Adler telah menemukan bahwa karakteristik psikologis khusus dari anak sulung bukanlah bawaan sejak lahir, tetapi merupakan hasil dari pengasuhan khusus setelah lahir: anak sulung dilahirkan dengan semua cinta dan perhatian dari semua anggota keluarga, dan ketika ia tumbuh dewasa, ia menjadi terbiasa berpikir bahwa wajar jika ia menikmati cinta dan perhatian dari semua anggota keluarga, dan ia adalah pusat perhatian semua orang. Dia adalah pusat perhatian, seperti seorang kaisar kecil. Anak kedua lahir dan situasi berubah total. Si kecil menjadi pusat perhatian dan kaisar baru, sementara dia ditinggalkan dan menjadi kaisar yang turun tahta. Perasaan kehilangan ini tidak selalu terlihat oleh orang dewasa dan jarang disadari. Mereka harus menderita dalam keheningan, menekannya, membangunnya, dan di bawah fasad pemahaman terdapat kepahitan dan kebencian akan kehilangan dan agresi, dan mereka menjadi kurang polos dan lincah dan lebih sibuk. Ini belum semuanya, tetapi rasa sakit yang lebih besar menunggunya: ketika dia tumbuh dewasa, dia terus-menerus bersaing dengan anak sulungnya, membandingkan dirinya dengan dia dalam segala hal, tetapi pada kenyataannya dia bukan tandingannya dalam segala hal. Hal ini sering kali menanamkan benih permusuhan, agresi, dan balas dendam di benak anak tertua, dan menjadi sumber masalah psikologis yang kompleks.