Skrining kanker paru-paru bermanfaat untuk deteksi dini kanker paru-paru dini

  Skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi bermanfaat untuk deteksi dini kanker paru dini dan meningkatkan tingkat kesembuhan. CT dosis rendah ( low-dose
computedtomography (LDCT) 4-10 kali lebih sensitif daripada radiografi dada konvensional dalam mendeteksi kanker paru stadium awal dan dapat mendeteksi kanker paru perifer dini.  Data dari Rencana Aksi Kanker Paru-paru Dini Internasional menunjukkan bahwa skrining LDCT tahunan mendeteksi 85% kanker paru-paru perifer stadium I, dengan tingkat kelangsungan hidup yang diharapkan sebesar 92% pada 10 tahun setelah operasi.  Uji Coba Skrining Kanker Paru Nasional AS menunjukkan bahwa skrining LDCT mengurangi kematian akibat kanker paru sebesar 20%, menjadikannya alat skrining kanker paru paling efektif yang tersedia.  Faktor penilaian risiko untuk skrining kanker paru-paru yang disajikan dalam pedoman National Comprehensive Cancer Network termasuk riwayat merokok (saat ini dan masa lalu), paparan radon, riwayat pekerjaan, riwayat kanker, riwayat keluarga kanker paru-paru, riwayat penyakit (penyakit paru obstruktif kronik atau tuberkulosis), dan riwayat paparan asap (paparan perokok pasif).  Status risiko dibagi menjadi 3 kelompok: (1) Kelompok risiko tinggi: usia 55-74 tahun, riwayat merokok ≥ 30 bungkus/tahun, riwayat berhenti merokok < (1) Kelompok risiko tinggi: usia 55-74 tahun, riwayat merokok ≥30 bungkus/tahun, riwayat berhenti merokok <15 tahun; atau usia ≥50 tahun, riwayat merokok ≥20 bungkus/tahun, dengan faktor risiko tambahan selain perokok pasif.  (2) Kelompok risiko menengah: usia ≥ 50 tahun, riwayat merokok atau pajanan merokok pasif ≥ 20 bungkus/tahun, tidak ada faktor risiko lainnya.  (3) Kelompok risiko rendah: usia <50 tahun, riwayat merokok <20 bungkus/tahun.  Pedoman ini merekomendasikan skrining untuk kanker paru-paru pada kelompok berisiko tinggi dan tidak pada kelompok berisiko rendah dan menengah.