Mikrotia kongenital, juga dikenal sebagai “malformasi kongenital pada telinga tengah eksternal”, adalah malformasi unilateral atau bilateral pada daun telinga saat lahir. Pada kasus yang ringan, daun telinga berukuran kecil dan tidak jelas; pada kasus yang parah, hanya daun telinga sisa berbentuk kacang yang tersisa di telinga luar, atau bahkan seluruh daun telinga bagian luar hilang. Pada beberapa kasus, terdapat asimetri wajah, yang juga dikenal sebagai “sindrom lengkung insang pertama dan kedua”. Saat ini, metode rekonstruksi telinga modern yang menggunakan tulang rawan tulang rusuk autologus sebagai bahan bakunya dan menempatkan stent telinga di daerah mastoid dianggap sebagai metode pengobatan yang paling efektif. Kapan waktu terbaik untuk operasi? Sebagian besar orang tua dari anak-anak khawatir akan tekanan psikologis yang dapat ditimbulkan oleh telinga yang hilang. Namun, tingkat perkembangan tulang rawan tulang rusuk membuatnya perlu untuk melakukan operasi rekonstruksi telinga ketika ada bahan baku yang cukup untuk penyangga telinga. Saat ini, kriteria yang diakui secara nasional dan internasional untuk melakukan operasi adalah: usia 6 tahun, tinggi badan 120 cm, dan lingkar dada 57 cm. Seiring dengan perkembangan tubuh, jumlah tulang rawan tulang rusuk meningkat secara dramatis, sehingga tulang rawan tulang rusuk anak-anak yang berusia di atas 6 tahun lebih kondusif untuk perancah telinga, dan hasilnya cenderung lebih baik setelah operasi. Inilah salah satu alasan mengapa bentuk telinga yang direkonstruksi sebagian besar memuaskan pada usia 8 – 10 tahun. Namun, setelah masa pubertas, tulang rawan tulang rusuk mulai mengapur dan mengeras ke titik yang tidak kondusif untuk perancah telinga. Oleh karena itu, waktu yang optimal untuk bedah telinga rekonstruksi adalah antara usia 6 tahun dan pubertas.