Minum air yang tidak bersih meningkatkan risiko infeksi Mycobacterium avium

  Infeksi Mycobacterium tuberculosis (bakteri yang menyebabkan tuberkulosis pada manusia dan hewan) memiliki dampak besar pada kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan ekologi di pedesaan Uganda. Namun demikian, masalah ini belum mendapat perhatian yang memadai dan hanya sedikit investasi yang telah dilakukan. Untuk mengendalikan infeksi ini, kualitas air minum perlu ditingkatkan, sanitasi perlu ditingkatkan, dan informasi tentang cara mencegah infeksi dan penyebarannya perlu tersedia secara luas.  Ini adalah isi tesis PhD Clovice Kankya. Dia berfokus pada dampak infeksi Mycobacterium tuberculosis dalam hal antropologi sosial, sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Dia menganalisis bagaimana pengetahuan dan kepercayaan/takhayul lokal mempengaruhi sikap penduduk setempat terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis, yang dapat ditemukan di bagian sosial dan ekonomi dari tesis ini.  Faktor risiko tinggi bagi orang yang tertular Mycobacterium tuberculosis termasuk meminum air yang tidak bersih (dibagi antara manusia dan hewan) dan hidup berdekatan dengan ternak. Sebuah studi tentang hewan yang disembelih menemukan bahwa 9,3% babi yang disembelih memiliki perubahan patologis pada kelenjar getah bening yang menunjukkan infeksi Mycobacterium tuberculosis. Pada 3,2% dari kasus ini, basil yang terikat dapat dikultur di laboratorium. Hal ini menunjukkan bahwa Mycobacterium tuberculosis tersebar luas di lingkungan dan dapat ditularkan secara interaktif antara manusia, hewan peliharaan dan satwa liar.  Lingkungan demografis masyarakat dan praktik kebersihan keluarga juga memiliki pengaruh penting pada infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tingkat pengetahuan, sikap, praktik tradisional serta kebiasaan merokok, lingkungan tempat tinggal, dan penggunaan sumber air yang sama merupakan faktor risiko infeksi Mycobacterium tuberculosis pada populasi.  Konsumsi air dan susu yang tidak bersih dan penggunaan obat-obatan herbal adalah cara utama di mana hewan atau lingkungan dapat menginfeksi orang dengan Mycobacterium tuberculosis. Studi ini menemukan bahwa 65% dari populasi menggunakan obat-obatan herbal, sementara hanya 35% yang menggunakan obat-obatan modern untuk melawan infeksi Mycobacterium tuberculosis. Ketidaktahuan tentang infeksi Mycobacterium tuberculosis dan infeksi HIV yang menyertainya juga menyebabkan diskriminasi sosial dan ketidakadilan di masyarakat pedesaan.  Studi Clovice Kankya menemukan infeksi mikobakteri non-tuberkulosis (NTM) yang meluas di pedesaan Uganda. Faktor-faktor risiko ini membuat populasi dan hewan di ekosistem ini rentan terhadap infeksi NTM.  Untuk mengatasi peningkatan populasi dan infeksi hewan ini, Clovice Kankya menganjurkan pendekatan holistik dan interdisipliner (“satu kesehatan, satu ekosistem”). Dengan demikian, ia menggunakan kombinasi pendekatan mikrobiologi dan antropologi tingkat lanjut dalam penelitiannya.  Dia mengusulkan bahwa untuk mengobati infeksi Mycobacterium bovis, sebuah pusat kesehatan kecil yang berlokasi lokal perlu didirikan. Hal ini tidak hanya akan membantu mengurangi infeksi, tetapi juga akan mengurangi diskriminasi dan ketidakadilan terhadap pasien. Tujuan penting lainnya adalah untuk mengurangi beban individu dan masyarakat akibat infeksi Mycobacterium. Oleh karena itu, Kankya mengusulkan untuk menjaga lingkungan yang baik, kebersihan rumah tangga yang baik, dan meningkatkan pengelolaan sumber air minum, misalnya dengan menggunakan pipa tertutup untuk mengalirkan air murni.