Untuk wanita dengan siklus menstruasi normal, ovulasi biasanya terjadi sekitar 14 hari sebelum siklus menstruasi berikutnya. Jika siklus menstruasi tidak teratur dan tanggal menstruasi berikutnya tidak mudah diprediksi, hari ke-15 setelah menstruasi saat ini dapat diperkirakan secara kasar sebagai hari ovulasi. Ovulasi sering kali berkaitan dengan faktor-faktor seperti lingkungan, emosi, kesehatan fisik, kehidupan seksual dan penggunaan kontrasepsi, dan terkadang dapat terjadi lebih awal atau dua sel telur sekaligus, atau terkadang tertunda atau ditangguhkan. Oleh karena itu, terkadang tidak mungkin untuk menentukan tanggal ovulasi hanya dengan memproyeksikan siklus menstruasi. Dalam kasus tersebut, metode Billings dapat digunakan untuk mengamati lendir serviks dan memprediksi tanggal ovulasi. Metode ini dapat digunakan untuk kontrasepsi dan juga untuk pembuahan. Caranya adalah sebagai berikut: setiap malam sebelum tidur, seka lubang vagina dengan tisu toilet (berhati-hatilah agar tidak menggosok bagian dalam vagina), amati kejernihan, jumlah, dan tarikan lendir di atas kertas, dan catat sensasinya di vulva. Sensasi licin dapat berlangsung selama 2 atau 3 hari. Hari terakhir dari sensasi licin ini disebut ‘hari puncak lendir’. Hari ini terjadi rata-rata 0,9 hari sebelum ovulasi. Billings menganggap periode dari hari pertama siklus menstruasi hingga tiga hari setelah “hari puncak lendir” sebagai masa subur, dan sisanya sebagai masa aman. Metode untuk memprediksi hari ovulasi dengan mengamati lendir serviks dan sensasi pada vulva dikenal sebagai Metode Kontrasepsi Alami Billings. Penelitian telah menunjukkan bahwa probabilitas pembuahan adalah 0,667/siklus pada hari puncak, 0,444/siklus pada hari pertama setelah hari puncak, 0,205/siklus pada hari kedua, 0,089/siklus pada hari ketiga, dan 0,004/siklus pada hari yang aman.