Kasus-kasus yang masih hidup menunjukkan bahwa ada kebutuhan besar untuk meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat akan penyakit langka sklerofibroma dinding perut. Sklerofibroma dinding perut, yang juga dikenal sebagai fibroma mirip ligamen pada dinding perut, secara klinis jarang terjadi, dengan insidensi 0,2-0,4 per 100.000 yang dilaporkan. Fibroma sklerosis dinding perut secara histologis merupakan tumor jinak, tetapi perilaku biologisnya bersifat ganas. Umumnya bersifat non-metastasis tetapi memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi, yang dapat mencapai 70% setelah eksisi lokal. Penyebab patogenesisnya masih belum jelas, dan sebagian besar ahli melaporkan bahwa hal ini terkait dengan trauma, dan tumor ini sebagian besar ditemukan pada sayatan bedah asli dan area yang berdekatan, dan kebanyakan dari mereka adalah wanita, terutama wanita usia subur, berusia 25-37 tahun, dengan riwayat pembedahan. Beberapa ahli percaya bahwa kehamilan dan persalinan juga merupakan hal yang traumatis karena peregangan otot perut yang terlalu lama selama kehamilan dan kontraksi otot perut yang terus menerus dan keras selama persalinan dapat menyebabkan trauma pada serat dan menyebabkan perkembangan tumor. Namun, baru-baru ini kami merawat seorang gadis berusia 18 tahun yang belum menikah dan tidak memiliki riwayat trauma, namun ia mengembangkan fibroma kaku dinding perut yang begitu besar, yang secara klinis jarang terjadi. Untungnya, dengan perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu material baru, penyakit ini tidak lagi sulit untuk diobati. Namun, kita perlu memperhatikan dua hal: pertama, jangan salah paham bahwa Anda tidak bisa keluar dari tumor, tumor ini bukan tumor yang lain, tumor ini termasuk dalam kategori bedah dinding perut dan hanya bisa dibedah, dan metode lain, seperti radioterapi, kemoterapi, dll., tidak dapat bermanfaat bagi pasien dan tidak dapat menghentikan pertumbuhan tumor; kedua, jangan menyerah begitu saja, harus dideteksi dan diobati sejak dini, semakin dini semakin baik. Praktik klinis telah membuktikan bahwa jika terdeteksi secara dini dan dilakukan reseksi dengan bersih, tingkat kekambuhan dapat dikurangi hingga 4 persen.